slight-4

Slight, Dari Sepatu Lukis ke Sepatu Wanita Handmade

Ketika dijadikan sebuah usaha yang serius, produk handmade tidak bisa hanya bergantung pada keunikan dan daya tariknya saja. Kamu sebagai pengrajin juga harus aktif mencari cara bagaimana agar produkmu yang keren dan unik bisa dilihat dan ditemukan oleh orang lain. Toh produk yang keren juga akan terlupakan begitu saja kalau tidak ada yang menemukannya. Selain itu, agar bisa berkembang, kamu juga tidak bisa diam dan puas dengan produk handmade yang kamu punya saat itu.

Dua hal itulah yang kami pelajari dari Andina Nabila Irvani, atau yang lebih akrab disapa Dina, ketika menjalankan Slight Shop. Dengan konsep Art to Wear, Slight Shop rintisan Dina menyediakan banyak sepatu wanita handmade modern yang dipadukan dengan unsur seni, membuatnya punya keunikan sendiri dibanding sepatu biasa.

Dina sendiri terbilang sukses menjalankan Slight, menuai beberapa prestasi bisa terus membuat dan menjual sepatu wanita handmade selama bertahun-tahun. Tapi seperti yang kami sebutkan di atas, kuncinya tidak hanya terletak pada produknya, tapi juga upaya Dina dalam menjalankan Slight.

Dimulai dari Sepatu Lukis

slight-1

Dina sendiri sebenarnya bukan satu-satunya pendiri Slight. Ia mendirikan Slight bersama sang kakak, Nerissa Arviana, atau akrab dipanggil Icha. Dina sendiri sejak kecil memang suka dan punya bakat melukis, dan ahli dalam urusan melukis di atas kain. Di sisi lain Icha suka dan punya bakat berjualan sejak SMA. Tapi dua-duanya punya beberapa kesamaan. Yang pertama, mereka sama-sama suka mengoleksi sepatu. Kedua, mereka juga ingin menciptakan produk yang bisa dipakai sehari-hari dan bisa hidup mandiri. “Kami ingin bisa mandiri dan menghasilkan uang sendiri, tidak bergantung pada uang dari orang tua saja.”

Ide sepatu lukis sendiri muncul ketika Dina mencoba melukis di atas permukaan sepatu kanvas. Ketika dipakai oleh Icha, sepatu buatan Dina ternyata menarik perhatian. Dari situlah muncul ide untuk membuat dan menjual sepatu lukis dengan mengandalkan kemampuan lukis Dina.

Dengan pinjaman modal dari orang tua, keduanya membeli berbagai perlengkapan seperti sepatu kanvas polos, peralatan lukis, dan lainnya. Lalu keduanya mulai menjalankan Slight sambil tetap menjalankan kuliah mereka masing-masing.

Aktif Mencari Audience

slight-2

Ketika pertama kali didirikan, produk utama Slight adalah sepatu lukis dengan motif atau gambar yang lucu seperti wajah karakter dari kartun terkenal. Awalnya, mereka hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut saja. Respon yang diterima cukup baik dan bisa mendapatkan pembeli, karena kualitas sepatu lukis buatan Dina memang bagus. Tapi karena ingin berkembang lebih jauh dari sekedar promosi mulut ke mulut, Dina kemudian membuat website sendiri untuk Slight. Selain itu, ia juga bekerja sama dengan temannya yang mengerti tentang internet marketing untuk membantu mempromosikan Slight secara online. “Kemudian Slight sedikit demi sedikit mulai dikenal tidak hanya di Jakarta, namun di kota-kota lain di Indonesia juga sudah ada yang memesan,” kata Dina menjelaskan hasil dari upayanya untuk go online.

Upaya Dina untuk membuat Slight makin dikenal tidak berhenti di situ. Dengan respon positif yang diterima, Slight sedikit demi sedikit semakin dikenal. Dengan tajuk “merek lokal rintisan dua mahasiswi Indonesia,” tidak heran kalau Slight serta kedua pendirinya, terutama Dina, mendapatkan banyak sorotan. Dina mendapatkan undangan mengikuti Asean Youth Camp 2009 dari kampusnya. Selain itu, Dina bersama Slight juga menuai berbagai prestasi seperti Business Start Up Award, Shell Live Wire tahun 2009, dan menjadi finalis di Asia’s Best Young Entrepreneur di majalah Business Week. Prestasi serta kesuksesan Slight ini juga mengundang banyak media yang kemudian meliput dan memuat Slight dan Dina sebagai salah satu pendirinya.

Semua exposure tersebut sangat membantu Slight dalam melakukan promosi. Karena tiap kali Slight muncul di majalah atau di TV, masyarakat yang melihat akan penasaran dan mengunjungi situs atau toko online Slight. Beberapa di antaranya malah akhirnya menjadi pembeli.

Di luar itu, Dina juga menerapkan beberapa cara lain untuk memasarkan produk Slight, mulai dari yang konvensional seperti menghadiri bazar dan menyebarkan brosur, sampai menyediakan program reseller atau distributor.

Harus Beradaptasi dengan Persaingan Baru

slight-5

Berkat pemasaran yang aktif, Dina berhasil membuat Slight menuai sukses. Apalagi di masa-masa awal, yang namanya sepatu lukis masih jarang ditemui di Indonesia, membuat sepatu dari Slight yang memang berkualitas bisa menarik perhatian dengan mudah. Tapi, seperti yang kamu ketahui, ketika ada satu formula yang terbukti sukses, akan muncul banyak orang yang mencoba menggunakan formula tersebut, termasuk di bidang sepatu lukis handmade. Setelah beberapa tahun berdiri, Dina melihat ada sangat banyak pesaing yang muncul. Beberapa pesaing ini bahkan sampai membanting harga agar bisa mendatangkan pembeli.

Ikut-ikutan banting harga adalah ide yang buruk. Karena itu, Dina memutuskan untuk memperbaiki kualitas dan desain sepatu handmade dari Slight menjadi lebih elegan, glamour, dan chic, serta kualitas produk yang premium atau lebih bagus dari sebelumnya. Selain itu, kalau dulunya Slight cuma menyediakan sepatu lukis dengan model sepatu kanvas, Dina juga menghadirkan model sepatu baru yang lebih beragam, mulai dari sepatu flats sampai sepatu hak tinggi. Terakhir, Slight juga tidak hanya menghadirkan sepatu dengan lukisa, tapi juga dengan brukat dan rhinestones berkualitas tinggi. Dengan perubahan itu, target Slight akhirnya mulai berubah, yang awalnya hanya mengincar anak remaja, sekarang berubah menjadi wanita dewasa, sesuai dengan desain lini sepatu wanita handmade yang dibuat Slight yang sekarang ini lebih dewasa.

Sekarang, kalau kamu melihat koleksi produk Slight, kamu akan melihat berbagai macam desain sepatu wanita. Sepatu lukis yang menjadi awal kesuksesan Slight masih tetap ada, tapi mungkin berbeda dengan yang dulu. Lalu, ada juga sepatu wanita dengan brukat dan rhinestones yang sangat cocok kamu gunakan di hari spesial seperti hari pernikahan, sepatu boots dengan bahan suede sintetis, dan beberapa produk handmade lain di luar sepatu.

Setelah beberapa tahun berjalan, Slight sekarang punya tiga orang karyawan plus Dina, sedangkan Icha sekarang berperan sebagai advisor atau penasihat karena memiliki pekerjaan lain. Timnya bisa menjual sampai 200 pasang sepatu tiap bulannya, tidak hanya di seluruh Indonesia, tapi juga di berbagai negara seperti Thailand, Filipina, Taiwan, Malaysia, Thailand, dan juga Australia.

slight-3

Tantangan yang dihadapi Slight dari tahun ke tahun memang beragam, mulai dari persaingan, kualitas produk, sampai sumber daya. Tapi pada akhirnya Dina sendiri tetap senang menjalankan Slight yang memang berawal dari kesukaannya akan sepatu dan melukis. Ia juga senang ketika para pembeli senang dengan sepatu yang mereka terima, sampai mengenakannya di beberapa acara-acara penting.

“Saya tidak menyangka ternyata kegiatan Slight ini juga ternyata cukup menarik bagi media-media untuk meliput dan mempublikasikannya, hal-hal tersebut cukup berkesan buat saya karena berarti semua yang saya lakukan untuk Slight juga dihargai oleh orang lain. Saya juga merasa terharu ketika sepatu Slight dipakai oleh bride-bride dalam hari pernikahannya, saya senang Slight bisa ikut serta dalam menyempurnakan hari spesial para bride tersebut,” jelasnya.


Kalau kamu tertarik dengan koleksi sepatu wanita handmade dari Slight, langsung saja mengunjungi halaman Slight di Qlapa.

Bagikan artikel ini http://blog.qlapa.com/vumc

Artikel Lainnya