Cek 5 Fakta Tentang Resesi Ekonomi Indonesia

  • Whatsapp

Resesi ekonomi Indonesia berada diujung tanduk karena adanya pandemi COVID-19.

Pasalnya, angka pertumbuhan di kuartal II menunjukkan angka negatif, yaitu -5,32%. Padahal, di kuartal I, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan angka yang baik, yaitu tumbuh positif menjadi 2,97%.

Read More

Namun, minusnya angka pertumbuhan ekonomi di Indonesia sudah diprediksikan banyak pihak karena dampak pandemi COVID-19.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang terus menunjukkan angka minus, maka Indonesia diambang resesi meskipun penentuannya ada di kuartal III.

Berikut ini adalah fakta tentang resesi ekonomi Indonesia imbas dari pandemi COVID-19:

1. Penentuan di Kuartal III

Banyak negara terancam resesi ekonomi karena adanya pandemi COVID-19, termasuk Indonesia. Namun, resesi di Indonesia akan ditentukan di Kuartal II yaitu pada bulan Oktober.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis angka pertumbuhan kuartal III-2020 yaitu negative karena ekonomi masih akan terkontraksi yang disebabkan oleh pandemi.

Namun, karena adanya pelonggaran PSBB di Indonesia, gejolak ekonomi yang terjadi menjadi lebih bisa ditekan.

Hal ini membuat angka pertumbuhan di kuartal III tidak sedalam di kuartal II. Meskipun begitu, selama adanya pandemi COVID-19 akan terus mengancam dan menekan dari segi perekonomian, termasuk Indonesia.

2. Resesi Ekonomi Indonesia Tidak Separah Negara Lain

Dikutip dari https://harapanrakyat.com/, dengan adanya pandemi COVID-19, tidak akan ada negara yang aman dari ancaman resesi ekonomi.

Namun, dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lainnya dengan penduduk besar, seperti Brazil dan India, kondisi ekonomi Indonesia lebih baik.

Meskipun begitu, negara tetangga seperti Vietnam dinilai jauh lebih unggul dari Indonesia mengatasi resesi ekonomi. Pasalnya, realisasi pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I dan Kuartal II Indonesia yaitu 2,97% dan -5,32%. Terlebih lagi Cina yang ternyata sudah rebound dan angka pertumbuhannya sudah positif pada kuartal II.

3. Kecilnya Dampak Resesi Global ke Perekonomian Indonesia

Rizal Ramli, seorang ekonom senior di Indonesia menilai kemungkinannya kecil perekonomian Indonesia terdampak resesi global. Hal ini bisa dilihat dari perbandingan negara tetangganya, yaitu Singapura dan Thailand yang menunjukkan nilai pertumbuhan ekonomi negatif yang mencapai dua digit.

Dari patokan itulah, dampak resesi global ke perekonomian Indonesia masih dianggap kecil. Hal ini terjadi karena Produk Domestik Bruto (PDB Indonesia) 60%-nya berasal dari konsumsi dalam negeri, berbeda dengan negara-negara tersebut. 

4. Antisipasi Resesi dengan Belanja Negara

Adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar ternyata membuat konsumsi masyarakat menjadi terbatas. Padahal, konsumsi masyarakat adalah kunci dalam menopang ekonomi Indonesia.

Bahkan, kondisi seperti ini sudah terjadi sejak Kuartal I karena konsumsi rumah tangga turun drastis menjadi 2,84% yoy. Dengan begitu, pemerintah berputar otak untuk bisa mendongkrak perekonomian Indonesia dengan beragam cara.

Salah satu cara untuk mendongkrak perekonomian dan mengantisipasi resesi ekonomi Indonesia yaitu dengan mengandalkan belanja pemerintah. Pemerintah menyalurkan bantuan sosial atau stimulus secara tunai.

Misalnya, pemberian stimulus tersebut dilakukan pada pedagang kecil, UMKM, dan sektor perekonomian rakyat lainnya yang secara langsung terimbas pandemi COVID-19.

Baca Juga: Satuma Kraf, Produsen Kerajinan Tembaga dan Kuningan Terdepan

5. Pencairan Gaji Ke-13

PNS serentak akan menerima gaji ke-13 pada bulan Agustus 2020. Dengan cairnya gaji ke-13, diharapkan dapat mendongkrak konsumsi masyarakat yang nantinya meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Hal ini dianggap tepat karena bertepatan dengan momen kenaikan kelas untuk anak sekolah sehingga bisa berbelanja perlengkapan belajar dari rumah.

Misalnya, bisa berbelanja kuota internet, laptop atau gawai yang bisa membantu memaksimalkan belajar dari rumah. Jadi, dengan adanya pencairan gaji ke-13 terhadap PNS, diharapkan adanya kecenderungan mengkonsumsi marjinal menjadi besar.

Dari fakta tersebut dapat diambil benang merah jika secara teknis, resesi ekonomi Indonesia tengah terjadi. Pasalnya, ekonomi terus mengalami tekanan di Kuartal II dan diproyeksikan masih akan terjadi di Kuartal III. Namun, banyak pihak berharap jika di Kuartal III angka pertumbuhan ekonomi terus melaju naik.

Related posts