Peran Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dalam Penanganan COVID-19

  • Whatsapp
Komisi I DPRD Beserta Diskominfo dan DPMD Kabupaten Musi Rawas Kunker ke BPPT RI. (Foto: musirawaskab.go.id)

Percepatan penanganan infeksi virus corona di Indonesia tidak lepas dari penggunaan teknologi. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau yang dikenal dengan BPPT telah membentuk task force untuk penanganan COVID-19.

Diharapkan dengan teknologi yang dikembangkan, persebaran virus bisa dideteksi dan ditekan.

Read More

Sejatinya, BPPT memiliki peran yang penting bagi pengembangan teknologi di tanah air.

Namun masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahkan belum tahu peranan BPPT dalam penanganan virus corona di tanah air. Artikel kali ini akan mengulasnya.

Mengenal Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi didirikan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto oleh BJ Habibie di tahun 1975. Sebelum menjadi BPPT, lebih dulu dibentuk Divisi Teknologi dan Teknologi Penerbangan Pertamina (ATTP) dimana BJ Habibie bertanggung jawab langsung.

Tugas pokok dari BPPT ini adalah untuk melaksanakan segala penugasan dari pemerintah khususnya di bidang pengkajian dan penerapan teknologi. Fungsi dan wewenang dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ini disusun atas perundang-undangan yang berlaku.

Sebagai lembaga pengkajian dan penerapan teknologi, BPPT memiliki fungsi menyusun dan mengkaji kebijakan nasional terkait hal itu. Selain itu, BPPT juga berfungsi untuk melakukan koordinasi pada kegiatan fungsional pelaksanaan tugas BPPT itu sendiri.

BPPT juga berfungsi untuk memantau, membina dan membantu kegiatan-kegiatan pemerintah dalam hal pengkajian dan penerapan teknologi. Termasuk didalamnya adalah membina alih teknologi. Yang terakhir, BPPT berfungsi untuk menyelenggarakan pembinaan dan administrasi umum di berbagai bidang.

Wewenang dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ini mencakup penyusunan rencana nasional secara makro, merumuskan kebijakan di bidangnya guna mendukung pembangunan secara makro, dan menerapkan sistem informasi di bidangnya.

Peraturan perundang-undangan yang berlaku juga telah menyetujui adanya kewajiban-kewajiban lain yang melekat pada BPPT. Keberadaan BPPT banyak membantu dalam hal inovasi di bidang teknologi dan penerapannya.

Ada undang-undang khusus yang memperkuat posisi BPPT dan memberi landasan atas peran dan kewenangan BPPT. Saat ini, peran BPPT sendiri mencakup kerekayasaan, audit teknologi serta kliring teknologi. Ditambah lagi dalam hal penerapan teknologi seperti intermediasi teknologi, alih teknologi, dan juga difusi dan komersialisasi teknologi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peranan inovasi di bidang teknologi sangat dibutuhkan untuk bisa membangun kemandirian nasional. Selain itu, BPPT berpendapat bahwa inovasi ini penting agar Indonesia bisa mengurangi ketergantungan terhadap produk dari luar.

Peran BPPT di Saat Pandemi COVID-19

Virus Corona yang telah menginfeksi puluhan ribu masyarakat Indonesia telah secara tidak langsung menyadarkan masyarakat dan pemerintah tentang pentingnya ketahanan di bidang penyakit menular. Tidak dapat dipungkiri bahwa industri kesehatan di Indonesia belum mampu menghadapi tantangan ini.

Sebagai lembaga yang mendapat penugasan di bidang teknologi dan inovasi, BPPT hadir memberikan solusi untuk penanganan persebaran COVID-19 ini. Bersinergi dengan Satuan Tugas Riset dan Inovasi untuk Penanganan COVID-19, BPPT menghasilkan beberapa produk teknologi.

Produk teknologi hasil pengembangan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ini diharapkan bisa membantu dalam masa krisis ini. Kedepannya, produk-produk yang diluncurkan BPPT diharapkan bisa diproduksi secara massal baik untuk skala nasional maupun internasional.

Produk Hasil BPPT untuk Penanggulangan COVID-19

Masyarakat sebaiknya tahu bahwa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Indonesia mampu menghasilkan teknologi produk yang berguna pada masa krisis COVID-19 ini.

Selain itu, hasil dari produk ini juga sangat baik dan bisa membantu percepatan penanggulangan COVID-19. Nah, apa saja sebenarnya produk yang sudah dihasilkan BPPT? Berikut beberapa contohnya :

1. PCR untuk Mendeteksi Virus Corona

Polymerase Chain Reaction atau PCR adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya virus di dalam tubuh manusia. PCR yang dikembangkan oleh BPPT memanfaatkan strain virus corona yang menginfeksi masyarakat Indonesia melalui transmisi lokal.

PCR ini cocok untuk masyarakat Indonesia karena jika dibandingkan dengan PCR impor, strain virus yang digunakan bukan berasal dari masyarakat lndonesia. Selain itu, PCR dari BPPT ini telah lulus uji validasi PCR dan mendapatkan gold standar.

2. Rapid Test Tools

Rapid Test Tools hasil pengembangan dari BPPT diklaim mampu memberikan hasil yang sangat cepat yaitu sekitar 15 menit. Alat ini bisa digunakan sebagai alat screening awal agar seseorang bisa segera mendapat penanganan. Walaupun belum seakurat PCR, namun rapid test ini sangat bermanfaat untuk pendataan awal.

3. Sistem Cerdas Pelacak COVID-19

Berbekal teknologi AI atau artificial intelligence, BPPT mengembangkan sistem pendeteksi penyakit yang pemicunya adalah virus. Dengan sistem AI ini, dokter bisa menemukan penyakit dengan lebih mudah dan cepat. Bagi pasien, sistem pelacak cerdas ini bisa dilakukan sembari menunggu hasil swab keluar.

4. Mobile Hand Washer

Menjawab kebutuhan masyarakat untuk harus sering cuci tangan, BPPT mengembangkan mobile hand washer yang efisien dan mudah. Nantinya, akan diberikan panduan ke masyarakat tentang bagaimana membuat mobile hand washer ini secara mandiri dan swadaya. Beberapa rumah sakit rujukan COVID-19 bahkan sudah menggunakan mobile hand washer ini.

Baca Juga: Melihat Kondisi Pendidikan di Indonesia yang Masih Perlu Banyak Perbaikan

5. Emergency Ventilator

Emergency ventilator adalah sebuah ventilator portable yang bisa membantu pasien COVID-19 yang mengalami komplikasi pernapasan.

Desain yang dikembangkan oleh BPPT disesuaikan dengan model yang ada di Eropa. Tetapi, BPPT mengatakan bahwa komponen dalam negeri untuk membuat emergency ventilator ini mencapai 100%.

Kesimpulannya, pemerintah harus terus mendorong tumbuhnya inovasi teknologi dalam negeri agar tercipta kemandirian di segala bidang.

Saat ini, sangat dibutuhkan kemandirian di industri kesehatan. Diharapkan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi bisa menjadi jawaban atas perkembangan teknologi dalam negeri.

Related posts