Membina Hubungan Baik dengan Pengrajin Jadi Kunci Bangun Usaha Ini

Industri kerajinan di Indonesia memang salah satu yang terbesar di dunia. Dengan jenis produk dan teknik pembuatan yang sangat beragam, tak heran jika Indonesia menjadi salah satu negara destinasi kerajinan unik. Adalah Pak Liem, salah satu pengusaha yang cukup lama bermain di industri kerajinan khususnya di bidang dekorasi hotel dan villa.

Semua berawal dari tahun 1999 saat pria kelahiran 31 Agustus 1969 pindah ke Pulau Bali. Ia melihat peluang di industri kerajinan dan memutuskan untuk membuka sebuah art shop di Ubud. Produk yang ia jual berbahan natural seperti tenun, anyaman, dan rotan. Ia pun mulai menjadi penyedia kebutuhan dekorasi hotel, resort, dan villa mulai dari dalam hingga luar negeri. Produk-produk unik bergaya Bali Modern menjadi andalan yang disukai para konsumennya dari berbagai negara.

Pak Liem Hauw dan produk Kerajinan Bali

“Pada dasarnya kami menyediakan produk dekorasi yang berhubungan dengan menjahit, menganyam, dan menempel. Bentuknya bisa apa saja mulai dari lampu, sarung bantal, keranjang anyaman, baki, tempat sabun, dan lain-lain,” ujarnya. Sebagian besar pesanan datang dalam bentuk custom order yang biasanya dipesan untuk keperluan hotel dan resort.

Baca juga: Budiana Silver, Makin ‘Hidup’ Setelah Jualan Online

Untuk mengerjakan setiap pesanan, Pak Liem berkerja sama dengan sejumlah pengrajin lain yang ada di Indonesia. Misalnya untuk membuat pesanan lampu hias, ia bekerja sama dengan pengrajin kayu untuk bagian rangkanya, lalu penjahit untuk membuat tutup lampunya.

Tantangan Tersendiri

Dengan model bisnis seperti ini, Pak Liem mengaku tantangan terbesar adalah membangun kerja sama yang baik dengan pengrajinnya. Kualitas dari pengrajin Indonesia seringkali masih kurang konsisten. “Terkadang pengrajin itu membuat barangnya terburu-buru jadi kualitas produknya tidak sama,” ucapnya. Padahal dalam mengerjakan produk-produk khususnya pesanan dari luar negeri, ada standar tersendiri yang harus ia penuhi.

Dalam perjalanan membangun bisnisnya, Pak Liem juga telah merasakan sendiri bagaimana hal itu sangat berpengaruh. Beberapa kali ia harus membayar penuh pesanan pada pengrajin, tapi produk yang dipesan ternyata tidak sesuai dengan pesanannya. Malangnya, produk yang tak sesuai standar tersebut tidak bisa dijual, dan ia terpaksa harus mengeluarkan modal lagi untuk memesan dari pengrajin lainnya. Rugi, pasti. Namun hal itu tidak menjadi alasan baginya untuk terus berbisnis. “Yah mungkin itu bagian dari pembelajaran. Prinsipnya sebisa mungkin saya bantu (pengrajin), karena kalau mereka terbantu, saya juga pasti terbantu,” terang pria yang mengambil pendidikan teknik sipil ini. Mengingat pentingnya hubungan dengan pengrajin, Pak Liem merasa usahanya untuk terus mengedukasi, mengingatkan, dan membina rekan-rekan pengrajin tidak sia-sia.

Baca juga: 15 Tahun Garap Ekspor, Ini Alasan Brand Kluiklui Lirik Pasar Lokal

Tidak Berhenti Belajar

Hampir 20 tahun berkecimpung di industri kerajinan bagi Pak Liem bukan berarti ia bisa berpuas diri. Proses belajar baginya tak boleh berhenti di sana. Seiring dengan suburnya industri ecommerce, sejak 2013 Kerajinan Bali memperluas pasarnya di ranah nusantara lewat jalur online. Produk-produknya bisa ditemukan di sejumlah marketplace, salah satunya Qlapa. Dibantu dengan lima orang timnya, produk Kerajinan Bali kini bisa dengan mudah dinikmati oleh para konsumen dalam negeri. Bahkan bulan ini tokonya dinobatkan sebagai Seller of The Month. Setidaknya 443 produknya sudah terjual di Qlapa.

Meski jalur ini terbilang baru, namun Pak Liem mengaku sangat antusias untuk menekuninya. Apalagi, sudah sejak lama memang ia ingin menggarap pasar lokal dengan nama yang bisa dibanggakan. Sebab sekian lama berjalan, ia hanya menjadi ‘penjahit’ tanpa nama yang dikenal. “Harapannya semoga dengan jalur online produk Kerajinan Bali bisa dikenal oleh banyak orang. Bisa juga tembus ke internasional dengan brand ini,” tutupnya.

Bagikan artikel ini http://blog.qlapa.com/popl

Artikel Lainnya