Bukuku, Kenalkan Batik dengan Cara Berbeda

Ada banyak cara memperkenalkan budaya Indonesia. Ricky Teguh punya cerita yang unik soal ini. Lewat Bukuku, pria kelahiran Balik Papan, 30 November 1988 ini berusaha membawa batik Indonesia dengan alternatif produk jadi. Jika biasanya hadir dalam bentuk pakaian atau aksesoris, ia menjadikan batik sampul untuk buku agenda, passport cover, dan lain-lain.

Dibangun sejak 2015, produknya kini bahkan sudah bisa ditemui di sejumlah toko buku nasional yang tersebar di seluruh Indonesia. Serta secara online dapat ditemukan di Qlapa. Bicara soal membangun usaha, ini justru bukan bisnis pertamanya. Sebelum membangun Bukuku, ia justru sempat menjadi supplier sandal hotel. Sebuah peluang hadir saat ia mendapat pesanan buku tamu dari sebuah hotel. “Ini tantangan baru untuk kami karena sebelumnya memang belum pernah memproduksi barang-barang seperti itu apalagi dengan kain batik. Akhirnya, karena jiwa muda yang rasa ingin tahunya tinggi, kami menerima pekerjaan tersebut,” ungkap Ricky.

Fokus jangka panjang

Memulai segalanya dari nol, Ricky harus putar otak untuk mencari  bahan baku hingga penjahit baru sebab penjahit sebelumnya tidak terlatih untuk membuat sampul. Dengan modal sekitar Rp 6 juta, ia gunakan untuk bahan baku dan peralatan. Keuntungan yang ia dapatkan kemudian ia alokasikan untuk membeli bahan lagi dan menambah sumber daya. Sehingga jika ada pesanan dalam jumlah banyak, bisa ia kerjakan.

Setelah order selesai, ia kemudian memutuskan untuk lebih fokus pada buku agenda sebab lebih simpel dan lebih umum digunakan. Beruntung keputusan yang ia ambil tepat, karena kini ia kian memperluas variasi produknya dan merambah ke ranah custom.

“Cukup berdarah-darah juga pada awalnya, tetapi ingat bahwa hasil tidak akan mengkhianati kerja keras dan ketekunan,” kenangnya.

Apresiasi dan Cita-cita Bukuku

Berkat konsistensi dan performa yang baik, Bukuku mendapat predikat sebagai Seller of The Month di Qlapa bulan ini. Ricky membagi ceritanya untuk ini. “Foto yang bagus tentu sangat penting. Foto bagus tidak sama dengan foto menipu, foto bagus harus datang dari produknya sendiri,” urainya. Sementara sebuah foto bisa dikatakan menipu karena terlihat bagus daripada aslinya.

“Apabila ada perbedaan warna yang dihasilkan dari foto dengan barang aslinya, biasanya kami beri keterangan di bagian deskripsi produk bahwa setting warna pada setiap layar computer dapat memberikan hasil yang berbeda. Tapi kami tidak pernah sama sekali untuk berusaha mengubah produk asli, karena apa yang kami jual dan apa yang customer dapatkan ketika barangnya diterima adalah sama, sehingga customer akan merasa puas ketika melihat barang aslinya karena sama dengan apa yang mereka lihat di foto,” ujarnya.

Meski kini produknya banyak diapresiasi, Ricky mengaku tak mau berpuas diri. Ia masih memiliki cita-cita untuk membawa produknya go international. Bahkan saat diberi kepercayaan untuk mengirim produknya ke luar negeri ia merasa sangat senang. “Kami percaya Indonesia yang sudah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya, kelak akan diterima juga oleh masyarakat luar,” tutupnya.

Bagikan artikel ini http://blog.qlapa.com/xasf

Artikel Lainnya