Budiana Silver, Makin ‘Hidup’ Setelah Jualan Online

Sebuah bukti bahwa teknologi bisa membawa perubahan yang baik pada masyarakat.

Jatuh bangun dalam membangun usaha memang sebuah hal yang wajar. Yang membedakan tentu saja bagaimana upaya untuk bangkit dari sebuah masalah yang ada. Hal ini dirasakan juga oleh Putu Budi Sanjaya saat membangun kembali Budiana Silver. Usaha yang dirintis oleh sang ayah ini sempat mengalami penurunan yang signifikan, sehingga ia merasa terpanggil untuk kembali menghidupkan brand tersebut.

Kerajinan silver memang jadi salah satu komoditas yang khas, khususnya di desa Celuk, Gianyar, Bali. Sejak 1989, Budiana Silver dibangun oleh sang ayah, Made Budiana dan terus memproduksi berbagai aksesoris perak yang disukai masyarakat. Sebagai putra dari seorang pengrajin, Budi sedikit banyak belajar tentang kerajinan perak sejak di bangku sekolah dasar.

“Dari kecil sudah belajar mulai dari peleburan perak hingga membuat lempengan menjadi karya menarik seperti cincin, gelang, dan lain-lain,” ungkap putra pertama dari dua bersaudara ini. Budi yang mengeyam pendidikan manajemen pariwisata hingga di tingkat perguruan tinggi ini kemudian bekerja di industri perhotelan selama beberapa tahun. Saat sang ayah memutuskan untuk pensiun, ia pun meninggalkan pekerjaannya untuk meneruskan usaha keluarga.

Beralih ke Digital

Bekerja dan berwirausaha sedianya merupakan hal yang sangat berbeda. Saat kebanyakan orang memilih bekerja karena penghasilan yang lebih tetap, Budi memilih untuk membenahi usaha keluarganya. Menurutnya ini merupakan panggilan jiwa. “Saya ingin melestarikan budaya perak khususnya di Bali, karena di daerah ini pusatnya. Selain itu orang tua saya mengizinkan saya untuk meneruskan kesuksesan beliau,” ungkapnya.

Putu Budi Sanjaya

Diakui Budi pada kurun waktu 2010 hingga 2015 adalah masa-masa yang cukup sulit bagi brandnya. Sejumlah masalah mulai dari harga material yang naik, hingga berkurangnya jumlah pengrajin membuat ia sempat kesulitan untuk ‘bergerak’. “Yang jelas saat itu jumlah penjualan menurun drastis,” ungkapnya. Inovasi pun dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan membuat produk yang lebih menarik dari sebelumnya.

Baca juga: Ammossi, Gelang Etnik Buat para Traveler

Selanjutnya masalah pemasaran juga perlu ia pecahkan. Strategi marketing yang lama seperti penjualan secara offline saja tentu tidak cukup. Sarana digital dipilih karena lebih efektif dan bisa menjangkau lebih banyak orang. Saat memulai, belum banyak marketplace seperti sekarang. Setelah ada pun ia mengaku agak sulit bersaing karena banyak penjual lain yang menjual perhiasan impor dengan harga yang jauh lebih murah. Padahal, produk perhiasan buatannya punya nilai lebih karena dibuat secara handmade sehingga lebih unik dan detail. Ia pun tahu kalau produknya harus bersaing di tempat yang tepat, di mana produk handmade diapresiasi.

Qlapa menjadi salah satu tempat berjualannya di ranah digital. “Walaupun persaingannya juga ketat, tapi karena Qlapa fokusnya pada produk handmade di Indonesia, penjualan kami di sini jadi lebih bagus,” ucapnya. Bahkan belum genap satu tahun bergabung, Budiana Silver mendapat gelar sebagai Seller of The Month. Menurutnya untuk bisa berjualan dengan optimal ada beberapa trik yang bisa dilakukan. “Pada deskripsi paparkan sejelas mungkin mulai dari bahan, cara pembuatan, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan produk,” serunya.

Semangat Melestarikan Kerajinan Lokal

Anting Perak Bunga Jepun Putih Bali dari Budiana Silver

Budi percaya bahwa lebih dari apa pun, produklah yang akhirnya ‘bicara’. Untuk memberikan ciri khas pada produknya, desain aksesoris Budiana Silver selalu menggunakan ukiran Bali yang dikombinasikan dengan permata atau mutiara. Ia juga memastikan bahwa produknya selalu menggunakan material yang baik. Untuk itu seluruh produknya menggunakan perak dengan kadar 92.5%. “Kami menjamin bahwa produk kami bahwa benar-benar perak, bukan bahan lain yang kualitasnya jelek. Karena kita ingin memuaskan konsumen.”

Proses pembuatan perhiasan silver

Dibantu dengan 5 karyawan, dalam sebulan Budiana Jewelry bisa menghasilkan hingga 500 buah aksesoris. Kisaran harganya dimulai dari Rp 85.000 untuk anting hingga Rp 1.850.000 untuk gelang. Rata-rata omzetnya juga bisa mencapai Rp 45 juta, di mana lebih dari 50% merupakan hasil penjualan di Qlapa. Hingga kini, Budi tak pernah menyesali keputusannya untuk meninggalkan pekerjaannya. Ia bahkan mengungkapkan rasa bangganya karena mulai bisa menghidupkan kembali kejayaan bisnis keluarga.

“Saya Ingin membuat Budiana Silver lebih dikenal di Indonesia, bahkan sampai bisa ekspor ke luar negeri juga,” tutupnya.

 

Simak kisah inspiratif Seller of The Month lainnya:

Sugiono Bangun 2G Batik Madura dengan Modal 0 Rupiah

AiDecor, Kaligrafi Shabbychic Beromzet Hingga Rp15 Juta Perbulan

Our Zuri: Aksesoris Handmade Indonesia Tak Kalah dengan Buatan Impor!

Bagikan artikel ini http://blog.qlapa.com/lodj

Artikel Lainnya