Lewat Qlapa, Adhi Sasmita Hidupkan Brand yang ‘Tertidur’ 13 Tahun

Bagi sebagian orang, memiliki sebuah brand yang sukses adalah sebuah cita-cita besar. Hal ini yang juga sempat diinginkan oleh Adhi Sasmita. Pada 2005, ia dan sang istri bermimpi tentang sebuah brand yang fokus pada kreasi tenun dalam bentuk yang modern. Konsep, nama, bahkan tag produk sudah dipersiapkan. Namun semuanya seakan terlupakan saat Adhi memulai sebuah bisnis baru.

Mengambil jurusan Seni Keramik di Universitas Negeri Solo, pada 2004 ia berkesempatan untuk menimba ilmu di bidang fashion. Lulus pada 2005, ia pun membuka jasa bersama sang istri untuk mengelola sejumlah butik. Ia berkolaborasi dalam membuatkan konsep, desain, hingga produksinya. Usaha produksi dan development produk fesyen untuk brand-brand etnik rupanya berjalan cukup mulus hingga saat ini.

Tiga belas tahun berlalu, kerinduan itu pun datang. “Awalnya dari iseng-iseng, akhirnya mulai kepikiran kalau kita sepertinya sudah siap untuk membangun Vivees,” ungkap Adhi. Sejak lama, ia telah membuat konsep tentang Vivees, brand yang fokus pada kreasi tenun dengan citarasa casual dan modern.  

Semangat ini pun ia bawa serius dengan langkah selanjutnya, membuat prototype produk hingga bagaimana langkah pemasarannya. Rupanya ada cerita unik, karena dari awal Adhi sudah ‘mengincar’ untuk menjual produknya di Qlapa.

“Kami melihat bahwa Qlapa ini berbeda dengan marketplace lainnya karena sangat fokus pada produk etnik,” ujarnya.

 

Menemukan Sebuah Petualangan Baru

Adhi Sasmita, founder Vivees

Selain aktif di Qlapa, Adhi mengaku juga aktif di jejaring media sosial. Lewat ini juga ia bisa menemukan beberapa ‘link’ baru. “Awalnya lewat online ini kami bekerja sama dengan pengrajin tenun, dia mengirimkan kain dan kami buatkan sample dan foto produk. Dari foto itu, dia bisa jadikan bahan untuk jualan lagi. Bahwa, ‘produknya nanti bisa jadi model seperti ini loh’.” Hubungan baik yang terjalin ini rupanya berkembang. Akhirnya sejumlah pengrajin tenun menghubunginya untuk meminta dibuatkan sample juga.

Ia juga mengaku sangat terbantu dengan sistem penjualan yang ada di Qlapa. Makanya, meski aktif di media sosial,ia tetap mengarahkan calon pembelinya untuk bertransaksi di Qlapa. “Qlapa sangat membantu kami untuk lebih fokus ke penyiapan konsep koleksi dan produk. Hal-hal lain terkait promosi dan market, ternyata telah di handle secara profesional oleh Qlapa. Masukan dan survey dari Qlapa juga layak menjadi acuan dalam men-development sebuah produk,” ujarnya.

Ingin Terus Berkarya

Antusiasme pembeli yang positif memang tak diakui Adhi ia bisa capai secepat itu. Dibantu oleh 4 orang tim, ia membagikan ciri khas brand yang membedakannya dengan brand lain. “Produk kami biasanya limited edition karena memang kainnya belum tentu ada lagi,” ungkapnya. Adhi pun makin semangat membesarkan brand besutannya ini. Dari sisi produk ia bahkan berencana membuat second label yang fokus pada batik.

Ia juga ingin mengembangkan hubungan yang baik dengan para pengrajin dengan cara memberikan pembinaan secara intensif. “Saya ingin bisa memberikan pembinaan pada pengrajin, dari segi tren yang akan hadir, dan bagaimana bisa mengembangkan sebuah produk,” tutupnya. 

 

Semoga terlaksana!

 

Bagikan artikel ini http://blog.qlapa.com/vzzb

Artikel Lainnya