Jatuh Bangun Usaha, Pak Wayan Yakin Bisa ‘Hidup’ dari Kerajinan

“Jangan pernah minder menjadi perajin. Kalau kita kreatif dan inovatif, kita pasti bisa mandiri dan menciptakan lapangan pekerjaan dan untuk hidup dan kehidupan. Kuncinya adalah terus kreatif dan berkarya dengan perkembangan zaman.”  I Wayan Parnata – Owner Tindik Bali Organic

Masih ingatkah Anda dengan krisis ekonomi di tahun 1997? Saat itu gejolak politik yang berkecamuk membuat nyaris semua sektor bisnis dan ekonomi gulung tikar. Industri kreatif termasuk yang paling parah terkena dampaknya. Hal ini menjadi momen yang akhirnya juga memaksa I Wayan Parnata untuk keluar dari tempat asalnya di Bali. Guna mencari peruntungan, Pak Wayan yang lahir dari keluarga seniman ukir terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya dan bekerja sebagai pelayan di kapal pesiar.

Selama bertahun-tahun hidup jauh dari Bali, ia selalu teringat rumah dan mendambakan profesi yang sudah lama ia tinggalkan, pengrajin. Dengan tekad yang besar, ia pun menyisihkan hasil kerjanya di kapal untuk membangun usaha. “Berkali-kali saya coba membangun usaha tapi selalu saja gagal” ucapnya. Meski begitu, ia tak menyerah. Semangatnya untuk hidup sebagai pengrajin membuatnya kembali mencoba. Hingga pada 2007, ia mendirikan Tindik Bali Organic.

Kelahiran Tindik Bali Organic

Akrab dengan seni ukir, Pak Wayan bermaksud ingin mengembangkan produk yang juga menggunakan teknik ukir namun juga dapat dipakai sehari-hari. Dari sana lahirlah ide untuk membuat produk aksesoris berupa anting-anting tercipta. Sesuai dengan namanya, ‘tindik’ dalam bahasa Bali berarti anting. Sementara organic dipilih karena bahan-bahan yang digunakan untuk memproduksi anting terbuat dari kayu, kuningan, perak, hingga tulang. Uniknya, tulang yang digunakan merupakan sisa dari makanan.

“Saya berusaha untuk me-recycle barang yang masih bisa dipakai. Jadi untuk tulang saya gunakan tulang sisa dari bakso. Pemasoknya adalah pengusaha bakso dari Jawa,” ujar Pak Wayan. Ia membuktikan bahwa dengan kreativitas, bahkan barang yang dianggap sampah juga punya nilai jual tinggi.

Diakuinya membangun usaha bukanlah hal yang mudah. Terutama pada masa-masa awal ia merintis Tindik Bali Organic. “Salah satunya adalah meyakinkan pengrajin untuk bekerja dengan saya. Karena saat itu usahanya baru dimulai, jadi tentu saja ada kekhawatiran apakah ini akan berkembang atau tidak,” kenangnya.

“Merintis itu pasti sulit , tapi saya punya keyakinan ketika saya bisa melanjutkan usaha kerajinan ini saya tidak perlu bekerja lagi dan saya sangat senang bisa membantu teman-teman pengrajin lainnya.”

Inspirasi dan Cita-Cita Tindik Bali Organic

Salah satu ciri khas produknya adalah ukiran Bali yang banyak mengambil inspirasi dari alam. Agar tetap diminati, Pak Wayan sadar jika produknya juga harus mengikuti perkembangan zaman. Dibantu oleh 15 orang di timnya, Tindik Bali Organic juga menerima pesanan custom yang umumnya datang dari luar negeri. “Sementara saya melayani made to order dari pembeli dari Amerika atau Eropa , tetapi saya sangat berharap kerajinan saya bisa diterima oleh pasar Indonesia,” sambungnya.

Ya, itu merupakan salah satu cita-cita yang ingin diraih oleh Pak Wayan. Menjadikan Indonesia sebagai pangsa pasar utamanya. Sebab diakuinya hingga saat ini pesanan terbanyak justru datang dari luar negeri. “Saya tahu Indonesia adalah negara sangat besar dan kaya. Karena itu saya ingin menjadikan Indonesia sebagai target market utama.” Hal ini tentunya memiliki tantangan tersendiri, karena sebagian masyarakat Indonesia justru belum menghargai produk yang dihasilkan pengrajin. Padahal produk handmade tak hanya memiliki nilai dan keunikan tersendiri, namun dengan membeli produk buatan pengrajin artinya kita juga turut membantu perekonomian bangsa.

Sepuluh tahun berjalan, Tindik Bali Organic mengandalkan internet sebagai sarana penjualan utamanya. Tanpa ada store, melainkan hanya rumah yang juga menjadi workshop untuk membuat produknya. Qlapa menjadi marketplace yang ia percaya untuk memasarkan produknya. “Saya sangat senang dapat memperkenalkan produk saya di pasar Indonesia tercinta, sebab saya tau susah sekali mencari selera domestik Indonesia dengan gaya handmade dan jewelry berbahan organik,  tetapi saya bersyukur sekali mendapat respon yang sangat positif di Qlapa,” ungkapnya. Berkat semangatnya memasarkan produk handmade, Tindik Bali Organic mendapat predikat sebagai Seller of The Month di Qlapa.

 

“Dengan ini saya bersama tim lebih bersemangat membuat kreasi-kreasi baru dengan taste orang Indonesia,” tutupnya.

Bagikan artikel ini http://blog.qlapa.com/wdel

Artikel Lainnya