Tentatik: Mimpi Besar Regenerasi Tenun

Tenun sebagai salah satu warisan budaya Indonesia memang telah mahsyur namanya. Namun tahukah Anda jika keberadaan tenun mulai terancam dewasa ini? Penyebabnya tak lain adalah minimnya regenerasi pada para penenun. Di berbagai daerah di Indonesia para penenun usianya tak lagi muda, sementara generasi mudanya memilih profesi lain sehingga budaya. Akibatnya budaya tenun terancam punah karena tak ada lagi yang melestarikannya.

Hal ini menjadi salah satu concern utama yang dirasakan Angelini Sollistifani, founder dari Tentatik. Memulai usahanya sejak 2015, Lini, begitu ia akrab disapa, awalnya menjual kain tradisional sebab ia tinggal di daerah Ubud, Bali. Kemudian ia ingin kain yang ia jual tak hanya terbatas untuk dipakai ke kantor atau kondangan saja. Dari situ mulailah ia berkreasi menciptakan berbagai alat bawa seperti tas, clutch, dan pouch. “Awalnya hanya jual di sosmed pribadi, kebetulan di situ antusiasmenya oke,” ungkapnya.

Lini, founder Tentatik

Berbagai kain tradisional seperti dari Bali, Jawa Timur seperti Tuban hingga Flores seperti Maumere, Ende, Bajawa kemudian ia olah menjadi produk menarik yang bisa dipakai kapan saja. Dalam sebulan, Lini bercerita ia dapat memproduksi 100-150 produk yang ia jual melalui sosial media dan Qlapa. Meski sempat diragukan di awal, Lini membuktikan bahwa bisnisnya dapat berkembang. Bahkan Tentatik terpilih menjadi Seller of The Month bulan ini.

Tentunya tak mudah dalam membangun sebuah bisnis, ini juga dirasakan Lini, terutama di masa awal. “Ada yang meragukan, karena kan ini sudah banyak yang buat juga. Tapi saya nggak melihat ini sebagai kompetitor, tapi justru partner yang punya misi sama. Yakni menghidupkan kembali kain tradisional,” sambungnya. Dengan kehadiran Tentatik dan brand lain yang menggalakan kain tradisional, ia berharap dapat menciptakan demand yang besar dan mudah-mudahan menyelamatkan tenun dari kepunahan. Dengan backgroundnya sebagai pelatih di sebuah yayasan, ia punya mimpi besar untuk menjadikan Tentatik menjadi sebuah social enterprise. Harapannya, ia dapat mengajarkan para wanita termarjinalkan untuk menenun dan membuat produk yang berguna.

“Saat ingin membangun sesuatu, mungkin akan ada banyak penolakan di depan. Tapi kita harus percaya diri dan semangat untuk membuktikannya,” tutupnya.

Bagikan artikel ini http://blog.qlapa.com/cwfg

Artikel Lainnya