southeast-3

Selain Merek Produk Kulit Handmade, Southeast Adalah “Monumen” Penting Bagi Kedua Pendirinya

Semua orang punya atau berasal dari latar belakang yang berbeda. Masing-masing punya cerita yang berbeda pula, termasuk pengrajin lokal Indonesia. Diantara banyak pengrajin yang pernah kami wawancara, ada yang memang sejak awal sudah punya keahlian berkarya dan menjadikannya sebuah usaha, ada yang melanjutkan usaha orang tua, ada juga yang memulai hanya karena rasa penasaran.

Kali ini, kita punya Southeast, merek asal Bandung yang membuat berbagai macam leather goods atau produk dari kulit asli seperti dompet, gelang, dan strap. Dirintis oleh Kin Darma (Kin) dan Nadyatami Amalia Nurul Ichwan (Nadya), keduanya punya kisah dan pengalaman yang mungkin lebih sering kamu temui di novel ataupun TV dan film. Tapi hey, kisah dramatis dimana seseorang yang “kurang beres” berjibaku dengan kehidupan yang keras sampai akhirnya menuai kesuksesan juga bisa terjadi di dunia nyata. Mereka adalah salah satunya.

Drifters

southeast-1

Jujur, ketika melihat foto mereka di atas, ada banyak asumsi dan stereotip yang muncul di kepala saya. Rock ‘n Roll abis. Mereka kuliah ga ya? Jangan-jangan sering bolos dan ga lulus. Ga kaget deh kalau dia jarang pulang ke rumah.

Well, kali ini bayangan saya tidak meleset jauh. Nadya adalah cewek tomboy yang lebih suka menggunakan sepatu boots kulit, infinite bracelet, atau aksesoris lainnya. Ia sulit ditemukan terutama di malam hari karena kamu tidak akan pernah tahu di mana ia berada. Satu malam kamu mungkin bisa menemuinya di atap salah satu gedung tinggi di Bandung, besoknya kamu mungkin menemukannya masih ada di kamus jam 11 malam, atau menemuinya di minimarket ketika kamu mendadak kehabisan shampo untuk mandi pagi.

Kamu mungkin bisa menemuinya di kampus siang hari dan ngobrol dengannya. Toh dia cukup supel, tapi tidak punya teman yang benar-benar dekat dan lebih suka menyendiri, tidak seperti mahasiswi kebanyakan. Tapi itu kalau dia datang ke kampus, karena di sering menghilang, entah karena sedang bekerja di tempat lain atau melakukan apapun yang dia ingin lakukan. Yup, Nadya sudah bekerja sejak kuliah. Lebih suka melihat city light dari tempat tinggi dibanding ke mall atau semacamnya. Sulit ditemui karena sering menghabiskan malam secara random. Yes, that kind of girl. Deal with it.

Nadya bertemu dengan Kin karena “dicomblang” oleh teman Kin yang kebetulan adalah pacar senior Nadya. Singkat cerita, mereka berpacaran, dan enam bulan setelah pacaran, Kin melamar Nadya untuk menikah.

Orang seperti apa Kin? Apakah lebih “jelas” daripada Nadya? Nadya menjelaskan “Pribadi saya yang saya ceritakan merupakan pribadi yang nyaris sama dengan pribadi yang dimiliki kin. Kami sama-sama tidak beres kuliah, sama sama nomaden, sama sama melankolis, sama sama suka bergadang, sama sama tidak bisa kerja dengan orang lain.” Sooo, yeah.

southeast-2

Tapi tahan dulu pertanyaan “mau jadi apa mereka?” Meskipun nomad, keduanya tetap punya kemampuan dan pengalaman. Ketika SD, Nadya sudah mulai berjualan kecil-kecilan di sekolahnya, menjual aksesoris di bangku SMA, serta pernah membuat dan menjual aksesoris ketika kuliah. Kin sendiri sempat membuat brand kaos yang sayangnya tidak bertahan lama, dan juga pernah bekerja sebagai produser salah satu TV lokal di Bandung. Ketika pacaran, mereka juga pernah punya usaha di bidang kuliner yang hanya bertahan beberapa bulan, serta membuat proyek kecil-kecilan seperti membuat musik instrumental, melukis eksperimen DIY, dan proyek lainnya. Oh, karena berasal dari jurusan seni, Kin juga sempat ikut serta dalam beberapa pameran lukisan di Bandung.

Keduanya punya pengalaman dan keahlian masing-masing, serta suka berkarya dan mencoba menciptakan hal baru.

Bali, dan Segala Hal yang Terjadi di Sana

Karena jenuh, beberapa hari setelah resepsi pernikahan di awal tahun 2015, Nadya dan Kin pindah ke Bali untuk mencari peruntungan. Di sinilah banyak hal, yang kebanyakan buruk, terjadi pada keduanya. Tapi di sini jugalah awal dari Southeast.

Bermodalkan pengalaman dan keahlian yang dimiliki, Kin berhasil mendapatkan pekerjaan di wilayah selatan Bali. Keduanya tinggal di kamar kontrakan yang saat itu tidak memiliki kasur, dan Nadya tinggal di rumah karena kondisinya yang saat itu sedang hamil. Tapi pekerjaan Kin saat itu ternyata menyita waktu. Hampir tiap hari ia berangkat jam 8 pagi dan pulang jam 12 malam. Kalau pulang lebih awal sekalipun, ia masih sibuk dengan pekerjaannya. Hampir tidak ada waktu yang bisa diluangkan untuk berdua, membuat Nadya juga merasa “cemburu” ke gadget dan pekerjaan Kin.

Keduanya mulai tidak nyaman dengan kondisi masing-masing. Karena tidak bisa melakukan aktivitas di luar, Nadya harus tinggal di rumah dan hampir tidak pernah bersosialisasi atau melakukan kegiatan produktif lain. Di sisi lain, selain sangat menyita waktu, pekerjaan Kin juga memaksanya bekerja di bawah orang lain, dan membuatnya tidak punya tempat untuk memikirkan dan menuangkan ide kreatif. Ketika dulunya selalu punya kesempatan untuk mencoba berkarya, kali ini mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Belum lagi hubungan keduanya juga merenggang.

southeast-4

Merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya, Kin akhrinya berhenti setelah tiga bulan bekerja dan meninggalkan wilayah selatan Bali. Keduanya kemudian pindah ke wilayah timur Bali, dan Kin juga mendapatkan pekerjaan di sana. Tapi itu tidak memperbaiki situasi. Kin tetap sangat sibuk, sementara Nadya juga “nganggur” di rumah.

Itu juga belum semuanya. Dalam kurun waktu itu, Nadya mengalami keguguran. Lalu suatu hari mereka juga sempat ditipu/dicuri oleh seseorang di mesin ATM. Uang yang mereka miliki habis semuanya, dan mereka berdua memang tidak biasa membawa uang tunai. Malam itu mereka mau tidak mau harus rela makan dengan nasi dengan garam dan kecap, padahal mereka belum makan sama sekali sejak pagi. Lalu karena tidak cocok, Kin juga berhenti dari pekerjaan barunya hanya dalam waktu dua minggu.

Lahir dari Pelajaran dan Pengalaman

Tidak tahan dengan kondisi di Bali, keduanya akhirnya memutuskan untuk kembali ke Bandung. Tapi mereka juga bertanya “mau jadi apa di Bandung?” Mereka tidak mau lagi mengalami hal yang sama di Bali. Jadi sebelum pindah, mereka benar-benar memikirkan apa yang akan mereka lakukan di Bandung? Apa yang akan dibuat? Bagaimana caranya?

Selama berada di Bandung, Kin sering menonton video-video tutorial cara membuat dompet kulit. Keduanya juga memang sangat suka dengan leather goods atau segala macam produk kulit. “Bagi Kin, perempuan yang memakai sepatu kulit terlihat cerdas. Sebagai perempuan, saya merasa seksi ketika saya memakai produk kulit. Sepatu boots kulit adalah sepatu yang saya dan Kin pakai saat pertama kali kami bertemu, dan itulah yang membuat Kin jatuh cinta pada saya,” jelas Nadya.

southeast-6

Sejak awal, Nadya dan Kin memang suka berkreasi, apalagi Kin yang memang lulusan jurusan seni. Dengan potensi Kin, tekad keduanya untuk tidak bekerja di bawah orang lain lagi, dan kesukaan mereka akan produk kulit, mereka memutuskan untuk membuat dan menjual produk handmade kulit.

Nama Southeast sendiri diambil dari hari-hari mereka di Bali, secara spesifik tempat mereka menetap di Bali dulu, yaitu Bali selatan dan timur. Southeast adalah nama yang mengingatkan mereka akan pengalaman dan pelajaran yang mereka peroleh di Bali, termasuk suka, duka, dan kecewa. Southeast adalah nama yang menjadi motivasi mereka.

Dengan pinjaman modal serta teori yang diperoleh dari video Youtube dan berbagai macam website, mereka perlu waktu seminggu sampai akhirnya bisa membuat dompet kulit yang “hampir” sempurna atau paling tidak layak jual. Itupun setelah berkali-kali trial-and-error karena berbagai kesalahan atau hasil yang kurang memuaskan.

Meskipun begitu, karena memang suka dengan produk kulit, keduanya senang membuat produk kulit. Saking sukanya, mereka mengaku kecanduan membuat produk handmade kulit. Selain itu, mereka juga cukup perfeksionis ketika membuat produk kulit, sehingga sampai saat ini mereka hanya menjalankan Southeast berdua saja, dengan Kin yang mendominasi proses produksi, dan Nadya menangani pemasaran.

“Bagi kami, Southeast merupakan ‘karya’ yang kami persembahkan untuk pembeli kami. Karena kebanggan kami terhadap Southeast, kami harap para pembeli pun bangga menggunakan ‘karya’ Southeast,” Nadya menjelaskan. Ia juga menambahkan, “Mungkin suatu saat kami akan mencari pekerja, untuk meningkatkan jumlah produksi, tapi kami akan mencari pekerja yang benar benar kami latih dari nol, karena kami ingin membentuk tim, bukan perusahaan. Kami ingin membentuk tim yang solid dengan kepercayaan yang kuat.”

southeast-7

Bagaimana cara mereka menjalankan Southeast hanya dengan berdua? Sejak awal, mereka bekerja selama 24 jam dengan menerapkan sistem shift. Ketika Kin tidur, Nadya lah yang masih bangun dan kerja, begitu juga sebaliknya. Jadi kalau Nadya tidur jam 9 sampai 12 malam, tapi di jam 12 malam sampai 3 pagi, Nadya melanjutkan pekerjaan Kin, sementara Kin tidur. Mereka tetap punya waktu sama-sama bangun dan bekerja berdua. Tapi di luar itu, mereka tidur bergantian. “Entah mengapa saat kami bergadang, suasananya lebih produktif dan kondusif ketimbang mengerjakannya siang hari,” jelas Nadya.

Meskipun sepertinya berat, sistem seperti itu menghadirkan cerita yang unik buat keduanya. Mereka pernah mendapatkan “fans misterius” dari Jakarta. Fans karena ia sering dan bisa dibilang mengoleksi produk handmade kulit Southeast, dan misterius karena Nadya dan Kin tidak bisa menemukan profil orang ini di internet. Selain “setia”, pembeli ini juga baik hati dan mau memberikan masukan, kritik, saran, dan pujian yang perlu dengan sopan, tipe pembeli idaman buat hampir semua penjual. Suatu hari sang pembeli ini datang ke Bandung, mereka mengajaknya bertemu. “Saat kami bertemu, kami pun bertanya mengapa beliau mengoleksi produk southeast, beliau hanya menjawab seperti ini ‘leather artisan itu banyak, tapi dari semua leather artisan, kalian yang mempunyai service terbaik. Saya tanya jam 3 subuh, kalian jawab. Saya tanya panjang lebar, kalian jawab. Sampai istri saya bilang kalian itu gila. Masa online shop baik banget? Sekarang saya tau kenapa setiap saya tanya jam berapa pun kalian pasti jawab, ternyata kalian suka bergadang dan tidur dengan sistem shift ya. Saya yakin suatu saat kalian sukses’. Ucapan beliau menjadi motivasi bagi kami,” kenang Nadya.

Southeast sendiri mungkin masih terbilang merek dan nama yang baru, dan Nadya juga mengaku mereka berdua masih perlu belajar banyak. Tapi terlepas dari itu, buat mereka berdua, Southeast bukan hanya sebuah merek ataupun bisnis. Southeast adalah satu titik penting di kehidupan mereka, baik secara individu maupun berdua sebagai pasangan.

“southeast adalah simbol tentang kehidupan kami dahulu dan masa depan. Kin dan Southeast adalah dua hal yang tidak saya pilih secara acak,” Nadya menjelaskan, mengingat gaya hidupnya dulu. “Bagi saya pribadi, Southeast adalah hal yang merubah kepribadian Nadya yang dulu dan sekarang. Nadya yang dulu adalah wanita independen yang nomaden dan selalu milih pilihan secara acak. Namun Nadya yang sekarang merupakan Nadya yang memiliki komitmen, optimis, realistis dan memiliki tujuan untuk diraih. Itu semua berkat Southeast,” tambahnya.


Kalau kamu penasaran seperti apa produk-produk kulit buatan Southeast, langsung saja berkunjung ke halaman Southeast di Qlapa.

Bagikan artikel ini http://blog.qlapa.com/otxt

Artikel Lainnya