Lewat Kandi Batik, Nana Salurkan Cintanya pada Kain Tradisional

Passion yang besar pada kain tradisional jadi modal utama dalam membangun Kandi Batik.

Sebuah hal yang dilakukan karena rasa cinta tentu akan terasa ringan dan menyenangkan. Inilah yang dirasakan Hindun Diana saat membangun Kandi Batik, brand yang fokus pada batik ready to wear untuk wanita usia produktif. Dirintis sejak 2012, awalnya ia membuka butik kecil di lingkungan perumahan. Hampir 75% produk yang dihasilkan adalah permintaan customize.

Atas nama cinta pada batik

Menggeluti usaha di bidang fashion etnik, tak ada skill khusus yang dimilikinya. Wanita yang akrab disapa Nana ini mengaku hanya bermodal nekat dan cinta yang besar pada kain etnik, khususnya batik. Sebelumnya ia bekerja sebagai karyawan kantoran khususnya di bidang marketing dan humas. “Awalnya suka desain sendiri lalu dibuat ke tukang jahit. Saya juga sangat hobi hunting kain-kain etnik ke berbagai daerah,” urai Nana. Berbagai kain favoritnya antara lain batik Solo, Pekalongan, Yogyakarta, Cirebon, hingga tenun dari NTT.

Salah satu keunggulan dari Kandi Batik, menurut Nana adalah dari jahitan kainnya yang halus. Ia juga memilih untuk menggunakan kain dengan kualitas yang baik dan sangat menghindari penggunaan kain print. Sesuatu yang menurutnya sangat menyengsarakan pengrajin kain. “Salah satu cita-cita saya memang untuk terus membantu menghidupkan pengrajin di Indonesia.”

Berbagai koleksi ready to wear dalam bentuk blus, celana, hingga dress-nya dihargai mulai dari Rp425.000 hingga Rp1,5 juta rupiah.

Babak baru di dunia marketplace

Awalnya usahanya berjalan lancar, hingga beberapa tahun belakangan ia merasakan penjualannya kurang memuaskan. “Sekitar 3 tahun terakhir memang penjualan offline kurang bagus,” ungkap Nana.

Untuk tetap menghidupkan Kandi Batik, berganti strategi penjualan akhirnya jadi pilihan. Perlahan ia pun mulai menggeluti ranah online lewat media sosialnya. Berbagai produk ready to wear mulai dipasarkan lewat sosial media hingga akhirnya bergabung dengan marketplace, salah satunya Qlapa sejak November 2017.

Kemudahan dalam memasarkan produk secara online begitu dirasakan Nana. Jika sebelumnya produk Kandi Batik hanya bisa digunakan oleh sejumlah orang, kini lebih banyak konsumen yang bisa merasakan produknya. Seiring dengan meluasnya target market, perbaikan yang signifikan pada omzet juga dirasakan oleh Nana. “Bulan pertama saya masuk di Qlapa, langsung ada penjualan. Jadi makin semangat saya dalam berkarya,” pungkasnya.

Bahkan belum satu tahun bergabung dengan Qlapa, Kandi Batik terpilih menjadi Seller of the Month. Hal ini tentu saja tak lepas dari semangat dan usahanya untuk menjadikan brand ini lebih baik. “Puji syukur Alhamdulillah. Bahagia rasanya hasil karya saya dan tim bisa diterima dan disukai konsumen. Namun saya tidak boleh berpuas diri dengan pencapaian ini, saya harus meningkatkan lagi kualitas dan kreasi produk saya,” ujarnya.

 

Cita-cita luhur

Salah satu hal paling tidak terlupakan dalam sejarah Kandi Batik adalah terpilih untuk mengikuti sebuah fashion show yang dikurasi oleh desainer kondang, Samuel Watimena. “Saat itu saya baru bergabung dalam sebuah perkumpulan UKM binaan dan tidak menyangka kalau produk saya diapresiasi oleh mereka,” ujarnya bangga. Dalam lima tahun ke depan, Nana berharap bisa terus berinovasi dan menciptakan produk yang disukai masyarakat. Ia juga menaruh harapan besar agar kreasinya dapat bermanfaat bagi kelangsungan hidup para pengrajin kain di daerah.

Semoga!

Bagikan artikel ini http://blog.qlapa.com/oims

Artikel Lainnya