Dari Dokter Jadi Crafter, Ayu Hasilkan Hingga Rp100 Juta Perbulan

Sebuah bisnis kadang tercipta tanpa sebuah rencana yang besar. Seperti yang dialami Ayu saat membangun Decocraft Bali, brand yang memproduksi berbagai kerajinan seperti tas, kipas, sandal, dan topi yang terbuat dari anyaman bahan alami.

Bermula pada 2014, Ayu yang berprofesi sebagai dokter umum ini mengisi waktu luangnya dengan membuat kerajinan yang ia kreasikan dengan teknik decoupage. Berbekal ilmu yang diajarkan oleh sepupunya, hasil kerajinannya kemudian ia unggah ke media sosial. Tak disangka, postingannya menarik perhatian teman-temannya yang lalu tertarik untuk membeli. “Dari situ akhirnya mulai diseriusin dan memutuskan untuk menambah pegawai,” ujar wanita bernama lengkap Komang Ayu Kristiana Dewi Komalasari.

Andalkan Penjualan Online

Dalam membangun Decocraft, sejak awal Ayu mengandalkan dunia digital. Bermula dari sosial media pribadi, hingga memiliki website sendiri dan menjual produknya di marketplace. Decocraft yang bulan ini terpilih menjadi Seller of The Month di Qlapa, termasuk salah satu seller yang bergabung sejak awal Qlapa berdiri. Ayu mengaku sebagian besar ordernya datang secara online. Ia pun memiliki cara tersendiri untuk memasarkan produknya.

Baca juga: Membina Hubungan Baik dengan Pengrajin Jadi Kunci Bangun Usaha Ini

“Yang penting update terus setiap hari, lalu kalo ada inovasi baru harus langsung upload. Minimal dalam satu hari 1-2 kali, kemudian yang juga penting responsif, jujur, dan mau terima risiko,” ucapnya. Responsif memang jadi salah satu poin penting karena seluruh transaksi dilakukan tanpa bertatap muka dengan pelanggan. Meski menggantungkan hampir seluruh penjualannya di online, para pelanggan bisa datang ke workshopnya yang berada di Denpasar.

Inovasi Produk untuk Jaring Pelanggan

Seiring dengan berjalannya waktu, ia harus terus melakukan inovasi. Mengingat banyaknya kompetitor dengan produk yang serupa. Produk yang awalnya hanya berbahan dasar anyaman bambu kemudian bertambah menjadi anyaman rotan, lontar, pandan, mendong, hingga eceng gondok. Produk-produk ini tidak ia kerjakan sendiri, melainkan kerja sama dengan pengrajin dari berbagai daerah di Bali.

Baca juga: 15 Tahun Garap Ekspor, Ini Alasan Brand Kluiklui Lirik Pasar Lokal

Untuk memberi nilai lebih pada produknya, Ayu berkreasi dengan ornamen yang kekinian seperti tassel dan pompom. “Sebenarnya ini inspirasi dari pesanan customer, kemudian saya mulai coba-coba bikin yang lain karena pas juga untuk koleksi summer,” sambungnya. Strategi ini rupanya cukup berhasil, karena produknya jadi punya ciri khas yang berbeda. Ia pun jadi bisa menarik customer dengan usia yang lebih muda, yakni wanita mulai usia 20-an.

Jika kebanyakan brand mengalami kesulitan dalam memasarkan usahanya, Ayu justru merasakan tantangan berbeda. Baginya, tantangan itu adalah kesulitan dalam memenuhi order para pelanggannya. Meski sudah dibantu oleh 10 orang pegawai, ia masih merasa sulit mengerjakan pesanan termasuk custom order. Tak tanggung-tanggung, omzet yang diraihnya bisa mencapai Rp80-100 juta dalam sebulan.Ke depannya, Ayu berharap bisa memiliki toko offline yang berada di pusat Bali, agar bisa dijangkau oleh lebih banyak pelanggan. “Semoga suatu hari bisa tercapai,” tutupnya.

 

 

Bagikan artikel ini http://blog.qlapa.com/htos

Artikel Lainnya