Iseng-Iseng, Danila Hasilkan Kalung Tenun nan Cantik

Sebuah usaha kadang bisa berkembang dari kebutuhan kita sendiri. Seperti yang terjadi pada Danila Riyadi. Sebagai seorang wanita yang menyukai aksesoris, Danila kerap kesulitan menemukan produk aksesoris yang pas untuknya. “Awalnya saya memang dari dulu sudah menyukai craft. Dan kebetulan saya suka aksesoris berbahan ringan dan tidak mengganggu aktivitas. Tapi memang agak sulit menemukannya, karena biasanya bahannya berat,” ujar wanita yang berdomisili di Bali. Akhirnya pada 2014, tercetus ide untuk membuat sebuah brand yang menciptakan produk produk aksesoris bergaya etnik namun tetap modern, dan bisa dikombinasikan untuk gaya sehari-hari. Dari situ lahirlah yang brand yang ia namakan Arkana by Danila. (more…)

Lewat Qlapa, Adhi Sasmita Hidupkan Brand yang ‘Tertidur’ 13 Tahun

Bagi sebagian orang, memiliki sebuah brand yang sukses adalah sebuah cita-cita besar. Hal ini yang juga sempat diinginkan oleh Adhi Sasmita. Pada 2005, ia dan sang istri bermimpi tentang sebuah brand yang fokus pada kreasi tenun dalam bentuk yang modern. Konsep, nama, bahkan tag produk sudah dipersiapkan. Namun semuanya seakan terlupakan saat Adhi memulai sebuah bisnis baru. (more…)

Lewat Kandi Batik, Nana Salurkan Cintanya pada Kain Tradisional

Passion yang besar pada kain tradisional jadi modal utama dalam membangun Kandi Batik.

Sebuah hal yang dilakukan karena rasa cinta tentu akan terasa ringan dan menyenangkan. Inilah yang dirasakan Hindun Diana saat membangun Kandi Batik, brand yang fokus pada batik ready to wear untuk wanita usia produktif. Dirintis sejak 2012, awalnya ia membuka butik kecil di lingkungan perumahan. Hampir 75% produk yang dihasilkan adalah permintaan customize.

Atas nama cinta pada batik

Menggeluti usaha di bidang fashion etnik, tak ada skill khusus yang dimilikinya. Wanita yang akrab disapa Nana ini mengaku hanya bermodal nekat dan cinta yang besar pada kain etnik, khususnya batik. Sebelumnya ia bekerja sebagai karyawan kantoran khususnya di bidang marketing dan humas. “Awalnya suka desain sendiri lalu dibuat ke tukang jahit. Saya juga sangat hobi hunting kain-kain etnik ke berbagai daerah,” urai Nana. Berbagai kain favoritnya antara lain batik Solo, Pekalongan, Yogyakarta, Cirebon, hingga tenun dari NTT.

Salah satu keunggulan dari Kandi Batik, menurut Nana adalah dari jahitan kainnya yang halus. Ia juga memilih untuk menggunakan kain dengan kualitas yang baik dan sangat menghindari penggunaan kain print. Sesuatu yang menurutnya sangat menyengsarakan pengrajin kain. “Salah satu cita-cita saya memang untuk terus membantu menghidupkan pengrajin di Indonesia.”

Berbagai koleksi ready to wear dalam bentuk blus, celana, hingga dress-nya dihargai mulai dari Rp425.000 hingga Rp1,5 juta rupiah.

Babak baru di dunia marketplace

Awalnya usahanya berjalan lancar, hingga beberapa tahun belakangan ia merasakan penjualannya kurang memuaskan. “Sekitar 3 tahun terakhir memang penjualan offline kurang bagus,” ungkap Nana.

Untuk tetap menghidupkan Kandi Batik, berganti strategi penjualan akhirnya jadi pilihan. Perlahan ia pun mulai menggeluti ranah online lewat media sosialnya. Berbagai produk ready to wear mulai dipasarkan lewat sosial media hingga akhirnya bergabung dengan marketplace, salah satunya Qlapa sejak November 2017.

Kemudahan dalam memasarkan produk secara online begitu dirasakan Nana. Jika sebelumnya produk Kandi Batik hanya bisa digunakan oleh sejumlah orang, kini lebih banyak konsumen yang bisa merasakan produknya. Seiring dengan meluasnya target market, perbaikan yang signifikan pada omzet juga dirasakan oleh Nana. “Bulan pertama saya masuk di Qlapa, langsung ada penjualan. Jadi makin semangat saya dalam berkarya,” pungkasnya.

Bahkan belum satu tahun bergabung dengan Qlapa, Kandi Batik terpilih menjadi Seller of the Month. Hal ini tentu saja tak lepas dari semangat dan usahanya untuk menjadikan brand ini lebih baik. “Puji syukur Alhamdulillah. Bahagia rasanya hasil karya saya dan tim bisa diterima dan disukai konsumen. Namun saya tidak boleh berpuas diri dengan pencapaian ini, saya harus meningkatkan lagi kualitas dan kreasi produk saya,” ujarnya.

 

Cita-cita luhur

Salah satu hal paling tidak terlupakan dalam sejarah Kandi Batik adalah terpilih untuk mengikuti sebuah fashion show yang dikurasi oleh desainer kondang, Samuel Watimena. “Saat itu saya baru bergabung dalam sebuah perkumpulan UKM binaan dan tidak menyangka kalau produk saya diapresiasi oleh mereka,” ujarnya bangga. Dalam lima tahun ke depan, Nana berharap bisa terus berinovasi dan menciptakan produk yang disukai masyarakat. Ia juga menaruh harapan besar agar kreasinya dapat bermanfaat bagi kelangsungan hidup para pengrajin kain di daerah.

Semoga!

Iseng-iseng, Bu Nini Hasilkan Omzet Puluhan Juta Perbulan

Jeli melihat peluang. Kemampuan ini memang diperlukan oleh seorang pengusaha. Ini jadi salah satu skill yang dimiliki oleh Nini Ting, owner dari Brockton Shoes. Brand yang ia kembangkan dari sekadar ‘iseng-iseng’ sejak 2014.

Menjadi seorang pengusaha sepatu sebetulnya tidak menjadi cita-citanya. Semua berawal dari bisnisnya di bidang bahan baku sepatu di Surabaya. “Waktu itu saya melihat ada penurunan pesanan dari industri yang biasa membeli di saya.  Akhirnya saya mulai pelajari sedikit demi sedikit soal sepatu,” ungkap Bu Nini. Kala itu, ia pun kerap memberi masukan pada rekanan bisnisnya, misalnya bahwa beda bahan baku, maka beda juga desain yang diterapkan. (more…)

Tentatik: Mimpi Besar Regenerasi Tenun

Tenun sebagai salah satu warisan budaya Indonesia memang telah mahsyur namanya. Namun tahukah Anda jika keberadaan tenun mulai terancam dewasa ini? Penyebabnya tak lain adalah minimnya regenerasi pada para penenun. Di berbagai daerah di Indonesia para penenun usianya tak lagi muda, sementara generasi mudanya memilih profesi lain sehingga budaya. Akibatnya budaya tenun terancam punah karena tak ada lagi yang melestarikannya.

Hal ini menjadi salah satu concern utama yang dirasakan Angelini Sollistifani, founder dari Tentatik. Memulai usahanya sejak 2015, Lini, begitu ia akrab disapa, awalnya menjual kain tradisional sebab ia tinggal di daerah Ubud, Bali. Kemudian ia ingin kain yang ia jual tak hanya terbatas untuk dipakai ke kantor atau kondangan saja. Dari situ mulailah ia berkreasi menciptakan berbagai alat bawa seperti tas, clutch, dan pouch. “Awalnya hanya jual di sosmed pribadi, kebetulan di situ antusiasmenya oke,” ungkapnya.

(more…)

sunaka

Bangkit dari Krisis, Sunaka Jewelry Raup Omzet Hingga Rp 400 Juta Perbulan

Bila bicara mengenai perhiasan, emas boleh dibilang sebagai primadona yang selalu diminati oleh kaum wanita. Padahal, masih banyak material lain yang bisa dirangkai menjadi perhiasan yang apik dan berdesain elegan. Inilah yang sejak tahun 1979 sudah dilakukan oleh Sunaka Jewelry, salah satu dari banyak pengrajin perhiasan dari Desa Celuk, Gianyar, Bali. Kurang lebih dua puluh tahun berjalan, produk Sunaka hanya berorietasi untuk eksport, mengerjakan berbagai pesanan dari brand luar negeri, tanpa menggunakan nama sendiri. (more…)

Merambah Dunia Online, Silfi Ingin Bawa Batik Ciwaringin Terkenal

Kerajinan batik penting untuk diwariskan untuk dijaga kelestariannya. Adalah Silfia Kurniati, seorang perempuan muda asal Cirebon yang juga berjuang menjaga eksistensi batik di tengah modernisasi. Lahir pada 8 Desember 1992, ia telah belajar membatik sejak duduk di bangku sekolah dasar. Silfi tekun menggeluti keterampilan tersebut hingga di 2015, selepas SMK, ia memutuskan untuk melanjutkan usaha keluarganya di bidang batik. Ia pun melebarkan sayap batik Ciwaringin, khas daerahnya lewat pemasaran online. (more…)

Cerita Retno Bangun Bungas Bags dengan Modal Rp300 Ribu

Modal yang kecil memang semestinya tak jadi penghalang dalam memulai usaha. Dengan niat dan passion yang tinggi, sebuah ide bisa jadi sebuah bisnis yang sustainable. Seperti yang dialami oleh Retno Hardini Wahyundari. Sejak duduk di bangku SMA, ia mulai gemar mendesain tas dan baju. Lalu saat kuliah hasil desainnya dibuat menjadi produk jadi berupa tas yang ia pakai sendiri. Kesempatan untuk mengembangkan minatnya lalu hadir saat ia bersama temannya mengikuti sebuah kompetisi wirausaha di tahun 2012.
(more…)

Bosan jadi Ibu Rumah Tangga, Glenda Sukses Bangun Glerry Home Decor

Salah satu tantangan yang dirasakan oleh wanita yang biasa bekerja di kantor, kemudian alih profesi menjadi ibu rumah tangga adalah kebosanan. Biasa sibuk di kantor, lalu mendadak hanya di rumah saja. Itu juga yang sempat dirasakan Glenda Karina setelah menikah dengan sang suami Terry Suhendar. Untuk mengisi waktu luang, Glenda berpikir untuk membuat sebuah bisnis yang bisa ia jalankan dari rumah. (more…)