Batik Jawa

Informasi Lengkap Batik Jawa Sejarah, Motif & Pusat Perkembangannya

Batik jawa terkenal sebagai seni menggambar kain dengan motif tertentu. Keterampilan dalam menggambar ini memiliki nilai seni tinggi serta termasuk dalam budaya Indonesia. Pada awalnya, kain ini hanya digunakan oleh bangsawan. Seiring berjalannya waktu, kini dapat dikenakan oleh siapapun.

Sentra batik jawa di Indonesia

Sentra Batik JawaBatik jawa merupakan warisan budaya dan lahir serta berkembang di masyarakat. Motif yang dituangkan menggambarkan nilai-nilai pada daerah penghasil. Karenanya, setiap daerah di daerah ini memiliki khasnya sendiri. Berikut ini kami sajikan informasi sentra penghasil jenis kain ini di pulau Jawa:

  • Pekalongan. Batik asli Pekalongan memiliki nilai sejarah, yaitu berkaitan dengan pergerakan zaman kolonial Belanda. Daerah ini merupakan salah satu daerah produksi utama dengan desain utara pesisir. Meskipun daerah ini bukan penghasil batik pesisir tertua, teksturnya paling halus.
  • Solo. Batik solo terkenal dengan pola dan corak tradisional. Pola paling terkenal di antaranya Sidoluruh serta Sidomukti. Bahan yang dipakai untuk pewarnaan adalah soga jawa.
  • Pada awalnya, kain ini hanya diperuntukkan untuk keluarga keraton. Namun, setelah peperangan besar, sebagaian keluarga keraton mengungsi. Kemudian kain ini dikembangkan oleh masyarakat di berbagai pelosok pulai ini.
  • Cirebon. Merupakan sentra produksi batik di Jawa Barat (dan merupakan sentra tertua). Motif paling terkenal dari daerah ini adalah Megamendung di mana melambangkan kesuburan.
  • Banten. Batik banten memiliki corak yang terinspirasi dari artefak. Warna abu-abu pada setiap motif menjadi ciri khasnya. Motifnya bercerita tentang sejarah dan telah berkembang ke mancanegara.
  • Lasem. Merupakan karya hasil pencampuran budaya Jawa serta Cina. Terlihat perpaduan model corak yang merupakan hasil silang budaya. Contohnya, gambar khas fauna Cina dikombinasikan dengan bentuk geometris pedalaman.
  • Betawi. Batik betawi memiliki warna cerah. Coraknya menggambarkan nilai budaya masyarakat betawi, seperti Ondel-ondel dan Sungai Ciliwung.

Mengenal corak khas batik jawa

Batik jawa memiliki beragam corak dan motif yang khas. Untuk mempermudah, berikut ini beberapa corak batik berdasar wilayahnya:

Batik Jawa Barat. Terdapat 200 motif dari berbagai daerah. Berikut beberapa diantaranya:

  • Indramayu, batik dari Indramayu memiliki nuansa kecoklatan.
  • Bogor, bertemakan karakteristik bogor serta senjata daerah.
  • Cirebon, terkenal dengan motif Megamendungnya.
  • Garut, bernuasansa warna agak pudar serta berupa motif binatang.

Batik Jawa Tengah:

  • Semarang, berwarna dasar oranye kemerahan dan mendapat pengaruh dari Cina dan Eropa. Menonjolkan corak faunanya.
  • Solo, dominan coklat serta kekuningan.
  • Pekalongan, banyak dipengaruhi oleh bangsa lain seperti Arab, Cina, Belanda, Melayu, dan lain-lain.
  • Rembang, terkenal dengan motif Lasemnya.
  • Tegal, didominasi warna coklat serta biru. Terkenal dengan corak rengrengan besar atau melebar. Mengadaptasi flora dan fauna sekitar.

Yogyakarta.

  • Di Yogyakarta, batik tradisional didominasi biru serta hitam,
  • serta soga coklat dan putih.
  • Karakter coraknya tegas, formal serta sedikit kaku.

Batik Jawa Timur. Berikut beberapa corak diantaranya:

  • Madura, warnanya mencolok, seperti kuning, merah, atau hijau. Mengangkat corak flora serta fauna.
  • Pacitan, tergolong jenis klasik.
  • Sidoarjo, coraknya didominasi flora dan fauna khas Sidoarjo. Sidoarjo juga memiliki ciri khas warna-warna cerah seperti merah, hijau, kuning, serta hitam.
  • Tuban merupakan penghasil paling khas di Jawa Timur. Proses pembuatannya dimulai dari kain yang digunakan dipintal langsung dari kapas.
  • Banyuwangi, berupa cerminan kekayaan alam yang ada di dalamnya.
  • Mojokerto, mengambil corak seputar kehidupan manusia.
  • Ponorogo, diilhami dari kesenian roeg yang juga produk budaya daerah setempat.
  • Tulungagung, memiliki paduan warna berani.

Beragam motif batik jawa berdasarkan nilai filosofisnya

Selain asal daerahnya, corak batik jawa juga menarik untuk diamati. Corak mengandung nilai filosofis di dalamnya. Berikut beberapa motif serta filosofi yang dikandungnya:

  • Truntum, menggunakan pewarna Soga Alam biasanya digunakan untuk pernikahan. Truntum artinya menuntun, diharapkan orang tua dapat menuntun calon pengantin. Daerah asalnya adalah Yogyakarta.
  • Tambal, biasa digunakan sebagai kain panjang. Coraknya mengandung unsur parang, ceplok, meru. Ada kepercayaan bila menggunakan kain ini saat sakit sebagai selimut sehingga sakit akan cepat sembuh.
  • Pamiluto, biasa digunakan sebagai kain panjang saat pertunangan. Pamilunto berasal dari kata pulut yang berarti perekat.
  • Sidoluhur, untuk upacara Mitoni. Filosofinya adalah si pemakai selalu dalam keadaan bahagia.
  • Sido Wirasat, biasa digunakan orangtua pengantin. Maknanya adalah orangtua memberi nasihat.
  • Wahyu Tumurun, berasal dari daerah Pura Mangkunegaran.
  • Cakar Ayam, biasa digunakan orangtua pengantin pada saat siraman. Filosofinya adalah, cakar ayam melambangkan agar keturunannya akan dapat mencari nafkah sendiri atau hidup mandiri setelah menikah.
  • Cuwiri, digunakan sebagai kain penggendong bayi.
  • Grageh Waluh, orang pemakainya selalu punya cita-cita tentang sesuatu.
  • Grompol, biasa dipakai ibu pengantin wanita saat siraman. Grompol artinya bersatu atau berkumpul. Pemakainya diharapkan akan dapat mengumpulkan segala hal baik seperti kesejahteraan.
  • Kasatrian, dipakai pengiring saat upacara pernikahan. Filosofinya, si pemakai akan tampil lebih gagah karena bersifat ksatria.
  • Kawung Picis melambangkan harapan agar manusia selalu ingat asal-usulnya.
  • Megamendung melambangkan dunia atas atau dunia luas dan bermakna Ketuhanan.
  • Bango Tulak, diambil dari nama seekor burung yang memiliki warna hitam dan putih. Warna hitam adalah lambang kekal, sementara putih lambang hidup.
  • Gurda, burung garuda yang dianggap suci di Yogyakarta.
  • Meru, berasal dari nama gunung sakral, karena merupakan singgasana Tri Murti.
  • Parang curigo Ceplok kepet, bermakna kecerdasan, kewibaan, serta ketenangan.
  • Parang kusumo mengandung makna bangsawan.
  • Kawung, biasa dipakai raja sebagai lambang keperkasaan.
  • Sidoluhur,bermakna dua jiwa menjadi satu.

Perbedaan Batik Jawa Klasik dan Kontemporer

Batik Jawa Kontemporer KlasikSeiring perkembangan jaman, batik juga ikut berkembang. Hal tersebut memunculkan corak baru. Karenanya, coraknya dapat dibagi menjadi dua, yaitu kontemporer dan klasik. Apa sih perbedaan keduanya?

Motif Batik  Jawa Klasik.

Jenis klasik telah dikerjakan secara turun temurun serta diciptakan pada zaman kerajaan. Biasanya, corak ini mengandung filosofi tentang kehidupan manusia. Beberapa corak klasik kental dengan cerita mistis. Salah satunya adalah memiliki energi magis bagi pemakainya. Corak klasik juga simbolik pada setiap gambar. Selain itu, warna yang digunakan cenderung gelap. Karakter jenis klasik bergantung pada ciri khas daerah penghasilnya.

Motif Batik Jawa Kontemporer.

Jenis kontemporer bernuansa modern dan biasanya dibuat menggunakan pewarna buatan. Contoh perwarna buatan yang biasa dipakai adalai Rhemasol. Karenanya, didapatkan warna lebih cerah dari jenis klasik. Jenis kontemporer lebih mengedepankan pewarnaan gradasi. Paduan warna indah dipoleskan hingga tak memiliki batas antar warna. Motif ini memiliki ragam yang luas dan bebas. Gambar yang tertuang biasanya berupa binatang, buah, rangkaian bunga, tumbuhan, atau gambar abstrak. Jenis kontemporer tidak memiliki makna simbolik seperti jenis klasik. Warna yang dipakai juga bebas, tidak sesuai pakem. Selain itu, motif kontemporer tidak terikat dengan ciri khas daerah asalnya.

Pemilihan batik dapat disesuaikan dengan seleramu. Jenis klasik ataupun kontemporer memiliki keunggulannya masing-masing.

TEST

Pesona Batik Papua dari Indonesia Timur Corak, Sejarah &

Batik Papua mungkin tidak akan terlalu familiar bagi orang-orang awan akan dunia perbatikan. Namun bagi pecinta batik sejati, pasti sudah tak asing bahwa selain koteka, Papua juga punya batik. Soal kualitas dan keunikan, sudah tidak perlu ditanyakan lagi.

Cerita Awal Eksistensi Batik Papua

Perkembangan era perbatikan di Papua, bermula pada tahun 1985. Dimana saat itu, pemerintah Indonesia mendapatkan bantuan dari The United Nations Development Programme (UNDP). Bantuan tersebut berupa pemberdayaan kebudayaan di daerah Indonesia bagian Timur Papua. Tak tanggung-tanggung, pemerintah setempat mendatangkan langsung pengrajin batik terbaik dari Jawa untuk mengajarkan teknik membatik pada masyarakat daerah. Para pengrajin tersebut sebagian besar berasal dari Yogyakarta.

Sejak saat itulah kegiatan membuat batik kian berkembang pesat di Negeri Koteka. Memang tak jauh berbeda dengan berbagai jenis batik daerah lainnya. Namun tak seperti corak Solo atau Jogja yang terikat oleh sebuah peraturan. Corak Papua lebih bebas namun tetap kental akan etnik yang ada disekitar daerah tersebut.

Perbedaan singkat antara batik papua dan jawa

Model Batik Papua

Salah satu perbedaan mencolok dengan corak pulau Jawa ialah pola dan pemilihan warna dasar. Bila batik-batik Jawa lebih cenderung menampilkan pola simetris berjejer lurus atau diagonal, maka batik Papua tidak demikian. Coraknya malah cenderung asimetris dengan aksen-aksen khas etnik sekitar.

Hal tersebut juga berlaku untuk pemilihan warna dasar kain. Paduan warna-warni cerah semakin menambah kesan eksotis dari kain khas Pulau Cenderawasih ini.

Keunikan batik papua dari ujung timur Indonesia

Kain batik banyak digemari karena selain cantik, dia juga memiliki makna tersembunyi di setiap coraknya. Hal ini juga berlaku untuk batik Papua. Meski terbilang baru, setiap guratan motif khas Pulau Cenderawasih ini juga memiliki makna mendalam.

Jika di Jawa makna dari setiap motifnya berkaitan dengan sejarah, di Papua juga demikian. Motif-motif pada kain banyak terinspirasi dari lukisan-lukisan di dinding goa. Tak jarang juga berupa fosil, artefak, serta beberapa benda penginggalan zaman purbakala. Sangat kental akan sejarah terpendam dimana kehidupan pada masa itu masih sangat kuno.

Andil suku pedalaman Papua terhadap Batik Papua

Berbagai macam suku-suku di daerah Papua juga turut andil dalam perkembangan ragam motif batik. Mulai dari suku yang tinggal dipegunungan hingga pesisir pantai. Semuanya punya kebudayaan serta kepercayaan berbeda-beda.

Secara garis besar, motif-motif batik Papua merupakan penggambaran dari kondisi alam sekitar. Baik itu flora dan fauna. Hewan-hewan yang biasa dijadikan pola hias ialah burung Cendrawasih, burung camar, cicak, bahkan buaya.

Proses pewarnaan kain pun masih menggunakan bahan-bahan alami. Seperti warna merah tegas yang berasal dari buah pinang, buah matoa, atau kayu besi. Pemilihan warna tegas tersebut juga merupakan cerminan masyarakat asli pribumi yang harus tegas dalam bersikap.

Mengenal beragam motif batik papua

Pembuatan Batik PapuaBatik papua kian hari kian dikenal masyarakat. Akibatnya, banyak permintaan pasar dari segi model, variasi, juga motif. Mau tak mau pengrajin pun harus terus berinovasi guna memenuhi permintaan tersebut. Berikut adalah motif-motif yang cukup terkenal di pasaran:

Motif Batik Asmat.

Suku Asmat merupakan suku yang sudah terkenal sejak dahulu mendiami daerah Papua. Kebudayaan dari suku Asmat bak sudah mengakar di Papua. Hal tersebut pun akhirnya juga menjalar melalui perkembangan motif batik. Motif Asmat biasanya memiliki warna coklat dengan paduan warna tanah terakota. Ragam hias utamanya berupa patung-patung kayu khas suku Asmat sendiri. Tak jarang pula ragam hias tersebut berupa alat-alat musik khas kebudayaan Asmat.

Motif Batik Prada.

Paduan warna-warni beragam adalah salah satu ciri khas utama motif Prada. Pola hias utama dari jenis ini banyak terinspirasi dari peninggalan-peninggalan arkeologi yang tersebar di ujung kepulauan Indonesia ini. Salah satunya ialah lukisan-lukisan goa yang terletak di area Kabupaten Biak dan Jayapura. Selain itu, peninggalan sejarah semacam fosil dan artefak purbakala juga menjadi sumber inpirasi pengrajin. Simbol-simbol keramat unik serta ukiran khas pun tak luput dijadikan sasaran. Sehingga corak yang dihasilkan sangat kental dengan unsur sejarah di dalamnya. Tak ayal bila Prada banyak digemari oleh masyarakat lokal maupun internasional.

Motif Batik Cendrawasih.

Sesuai dengan namanya, motif ini memiliki pola hias utama yaitu burung Cendrawasih. Seperti kita tahu, burung Cendrawasih merupakan burung yang juga menjadi lambang sebuah keindahan. Beberapa suku di daerah sekitar bahkan menganggap burung ini sakral. Pola burung Cendrawasih dalam kain biasanya dipadukan dengan gambar tumbuhan dan bunga-bunga cantik khas daerah sekitar. Motif ini pun banyak digemari oleh kaum wanita karena mampu memberikan kesan anggun nan menawan.

Motif Batik Tifa Honai.

Selain dari penggambaran hewan dan sejarah di Papua, ada motif Tifa Honai yang muncul dengan makna filosofi mendalam. Jika diterjemakan dalam bahasa, Tifa Honai memiliki arti rumah kebahagiaan. Tempat untuk berpulang, berlindung, yang juga dipenuhi kebahagiaan. Inspirasi lain dari motif ini ialah kondisi alam sekitar seperti sumber air, pemandangan, dan lain sebagainya.

Teknik pembuatan Batik Papua

Ibu Pengrajin Batik PapuaDasar pembuatan batik Papua sebenarnya sama dengan di Jawa. Karena pada mulanya para pengrajin Jawayang mengajari masyarakat Pulau Cendrawasih ini. Berikut adalah teknik pembuatan secara spesifik :

  • Langkah pertama adalah membuat desain pola terlebih dahulu. Langkah ini biasa disebut molani. Guna menentukan pola, pengrajin bebas menentukan pol seperti apa yang akan digambarkan. Secara umum, pengrajin dapat membuat pola sendiri berdasarkan kreatifitas masing-masing. Atau menggunakan pola-pola yang sudah ada sebelumnya. Proses penggambaran biasanya menggunakan pensil halus. Beberapa menggunakan bantuan kertas untuk menjiplak pola guna mengurangi tingkat kesalahan.
  • Langkah kedua setelah molani ialah proses membatik menggunakan lilin dan canting. Pada tahap ini pengrajin benar-benar membutuhkan konsentrasi dan kesabaran tinggi. Proses membuat batik dilakukan mengikuti pola molani sebelumnya.
  • Langkah ketiga ialah menutupi bagian-bagian terntentu dengan lilin malam. Bagian-bagian tersebut biasanya akan dibiarkan berwarna seperti dasar kain atau ingin diwarnai berbeda. Di Jawa istilah ini bernama nembok. Berfungsi agar kain tidak menyerap warna ketika proses pewarnaan.
  • Langkah keempat ialah proses pewarnaan. Proses ini dilakukan dengan cara mencelupkan kain ke dalam cairan pewarna. Setelah dicelupkan, kain akan dijemur di tempat teduh hingga kering.
  • Nah, setelah kering proses pembatikan akan dilakukan lagi (langkah kedua), dilanjutkan dengan nembok (lengkah ketiga). Lalu dilakukan pewarnaan lagi (langkah keempat). Proses ini akan terus diulangi hingga kain memiliki pola dan warna sesuai keinginan pengrajin. Semakin rumit corak dan warnanya, maka akan semakin lama pula proses pembuatannya.
  • Apabila desain corak sudah sesuai keinginan, maka langkah selanjutnya ialah nglorot. Nglorot merupakan proses dimana kain direbus ke dalam air panas untuk menghilangkan sisa-sia lilin malam.
  • Proses terakhir ialah mengeringkan kain sebelum akhirnya bisa digunakan. Proses pengeringan selalu dilakukan di tempat teduh. Caranya, diangin-anginkan saja. Hal ini berfungsi agar warna kain tidak mudah luntur dan kusam.
TEST
batik parang sejarah batik trusmi

Sejarah Batik Parang Ragam Jenis, Asal Usul & Cara Pembuatan

Batik Parang merupakan jenis kain khas Indonesia dan banyak ditemui di daerah Solo sekitarnya. Selayaknya batik Jawa pada umumnya, motif ini didominasi oleh warna coklat gelap. Motif Parang muncul dan berkembang sejak zaman keraton Mataram Kartasura (Solo). Beberapa sumber mengatakan bahwa Parang adalah patokan awal motif dasar batik. Desain diagonal dengan ukiran di setiap sela garisnya banyak diadopsi oleh motif-motif di daerah lain. Oleh karena itu, motif ini dikatakan sebagai salah satu motif tertua yang sampai saat ini ada.

Asal Usul Motif Batik Parang Berasal Dari Daerah Pereng atau Lereng

Asal Usul Batik IndonesiaAsal usul nama Parang berasal dari Pereng yang berarti lereng. Nama ini bersesuaian dengan pola Perengan pada kain. Perengan merupakan penggambaran sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal. Desain garis turun ini merupakan lambang estafet (lanjutan) perjuangan dari golongan tua kepada para pemuda. Hingga kemudian, batik ini sering dijadikan sebagai hadiah oleh raja-raja kepada anak-anaknya.

Di sisi lain, bentuk garis diagonal merupakan perlambangan penghormatan dan cita-cita. Dinamika pola tersebut juga dapat diartikan sebuah kesetiaan, ketangkasan, kewaspadaan, serta kontituinitas antara pekerja satu dengan lain. Karena hal inilah batik Parang sering dikenakan di acara-acara pembukaan pada zaman kerajaan. Contonya misal pada saat ada seorang Senopati ingin berangkat ke medan peperangan.

Latar belakang ragam jenis batik parang

Pesatnya perkembangan batik Parang berbanding lurus dengan sejarah di dalamnya. Berbagai macam jenis motif Parang diciptakan dengan cerita serta filosofi berbeda. Berikut adalah sejarah motif-motif tersebut berdasarkan jenisnya:

Batik Parang Rusak.

Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati ketika beliau bertapa di Pantai Selatan. Pola dalam kain terpiransi dari deburan ombak di pinggir pantai. Ombak yang terus-menerus menghantam tebing dan karang. Tanpa mengenal rasa lelah. Pola ombak ini melambangkan usaha manusia guna melawan kehatan. Bagaimana menahan serta mengendalikan hawa nafsu mereka. Sehingga dapat menjadikan mereka sebagai manusia bijaksana.

Parang Barong.

Barong diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Susunan pola yang dimiliki sebenarnya hampir sama dengan Parang Rusak. Hanya saja, bentuk setiap polanya lebih besar. Makna tersirat di dalamnya terkait pengendalian diri s usaha yang dilakukan saat sedang berusaha meraih cita-cita. Selain itu, juga melambangkan kebijaksanaan di setiap gerak serta senantiasa berhati-hati dalam bertindak.

Parang Klitik.

Bisa dibilang, motif ini merupakan memiliki pola tarikan Parang paling halus di antara jenis lainnya. Ukuran tiap hias pola juga lebih kecil dan tidak terlalu tebal. Sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan yaitu penggambaran citra feminin berupa lambang sifat kelemah-lembutan dan perilaku halus serta bijaksana. Jenis ini yang biasa digunakan oleh para puteri kerajaan.

Parang Siobog.

Pola Siobog erat kaitannya dengan perlambangan keteguhan, ketelitian, serta kesabaran. Sehingga banyak digunakan dalam  upacara pelantikan seorang pemimpin. Harapannya, pemimpin tersebut mampu mengemban tanggung jawab dan menjalankan tugasnya dengan penuh amanah. Tak lupa pula disertai kebijaksanaan dalam diri. Selain itu, jenis ini juga sering dipakai pada acara pemakaman raja. Tujuannya agar arwah sang raja mendapat kelancaran dalam perjalanan menghadap Sang Maha Kuasa.

Jenis-jenis batik parang yang tersedia di pasaran

Jenis Batik ParangSeiring berjalannya waktu, Batik Parang kian banyak memiliki peminat. Hingga tak hanya jenis terdahulu saja, tetapi mulai muncul jenis-jenis baru. Beberapa yang beredar di pasaran ialah :

  • Parang Rusak. Dulu jenis ini lebih sering digunakan para patih untuk berperang. Mungkin karena hal itulah Parang Rusak banyak digemari para pria sekarang. Pola tegas yang dimiliki memberikan kesan gagah pada setiap pemakainya.
  • Parang Barong. Pola besar pada jenis Barong membuatnya banyak digunakan sebagai bahan membuat kemeja atau hem. Pola Barong pun banyak diadopsi kemudian dipadukan dengan warna dasar cerah seperti biru. Bahkan, bebepa dinas menggunakannya sebagai seragam kantor mereka.
  • Batik Klitik. Sesuai dengans sejarah serta filosofi di dalam polanya. Klitik sangat digemari oleh kaum wanita masa kini. Jenis ini banyak digunakan sebagai kombinasi pembuatan berbagai macam model baju wanita. Biasanya dikombinasikan dengan kain polos berwarna senada.
  • Batik Siobog. Siobog juga merupakan corak yang banyak digemari para pria. Susunan polanya sangat cocok bila dijadikan bahan pembuatan kemeja. Apalagi jika digunakan untuk acara-acara resmi. Pola Siobog mampu memberikan kesan rapi.
  • Batik Parang Kusumo. Kusumo sangat identik dengan perempuan Jawa. Bisa dikatakan, motif ini merupakan cerminan perempuan Jawa. Setiap detail dalam pola batik mencerminkan kehalusan. Memiliki makna bahwa hidup harus dilandasi perjuangan guna mencari keharuman lahir dan batin.

Cara pembuatan batik parang

Cara pembuatan Batik Parang

Tingginya nilai seni batik tak hanya dinilai dari motif atau coraknya saja, tetapi bagaimana proses rumit di belakang keindahan tersebut. Berikut adalah tahapan pembuatan batik Parang yang mungkin belum kamu ketahui :

Pemilihan Kain.

Langkah pertama dalam pebuatan batik adalah memilih jenis kain. Sutra sangat cocok apabila tujuan pembuatan untuk acara-acara spesial. Jika hanya untuk digunakan sebagai pakaian sehari-hari, katun adalah pilihan yang biasa digunakan.

Pencucian Kain.

Tahap selanjutnya ialah pencucian. Minyak camplong dengan campuran soda biasa digunakan untuk mecuci kain. Fungsinya, kain dapat menyerap warna secara maksimal juga membuatnya tidak mudah luntur.

Pelorotan.

Setelah dicuci menggunakan miyak camplong dan soda, kain kemudian akan dicelup ke dalam air panas. Kemudian, dijemur selama beberapa menit guna menghilangkan zat penguat sebelumnya.

Penggambaran Pola.

Pada tahap ini, kain mulai digambari pola. Pola-pola tersebut biasanya digambar terlebih dahulu di atas kertas roti. Baru kemudian dijiplak pada permukaan kain. Namun bisa juga langsung digambar pada permukaan kain menggunakan pensil atau canting.

Pembatikan.

Pada proses ini, lilin malam akan mulai digambarkan pada kain menggunakan canting. Proses ini biasanya dimulai dengan nglowong (menggambar garis luar pola dan isen-isen). Pada proses isen-isen terdapat istilah nyecek yaitu membuat isian dalam pola yang sudah dibuat. Misalnya titik-titik. Ada pula istilah nruntum dimana prosesnya hampir menyerupai isen-isen namun dengan tingkat kerumitan lebih tinggi.

Nembok.

Nembok merupakan proses menutupi bagian-bagian kain yang tidak ingin diwarnai atau ingin diberi warna lain. Bagian tertutup tersebut, nantinya tidak akan bisa menyerap warna ketika proses pewarnaan. Oleh karena itu disebut nembok, karena seakan-akan berfungsi sebagai penahan.

Pencelupan atau Pewarnaan.

Barulah kain dapat mulai diwarnai dengan mencelupkannya ke dalam cairan pewarna. Proses ini dilakukan berulang-ulang hingga mendapatkan warna yang diinginkan. Tak jarang pengrajin harus melakukan lebih dari tiga kali pencelupan.

Pencucian.

Apabila proses pewarnaan selesai, maka tahapan selanjutnya ialah pencucian akhir. Dimana kain akan direbus menggunkan air panas untuk melunturkan sisa-sisa lilin malam.

Penjemuran.

Tibalah pada tahapan terakhir yaitu penjemuran atau pengeringan. Pada proses ini, batik tidak dijemur di bawah sinar matahari langsung. Namun dijemur di tempat teduh dan hanya diangin-anginkan saja.

Kesimpulan sejarah dan proses pembuatan batik parang

Secara garis besar, proses pembuatan batik parang tak jauh beda dengan jenis lainnya. Namun bila dilihat dari sejarah, pesan, serta harapan yang ingin disampaikan. Parang punya makna paling mendalam. Setiap jenis Parang bahkan punya sejarahnya sendiri. Setiap guratan titik dan gari polanya punya pengharapan berbeda. Hal inilah yang menjadikannya begitu diminati oleh pecinta kain khas Nusantara.

TEST
Batik Nusantara Indonesia

Sejarah Asal Usul Batik Nusantara Ragam Corak, Jenis & Motif Modern

Batik nusantara sudah mulai ada jauh sebelum Indonesia menjadi sebuah negara. Semula, budaya menggambar di kain sudah lebih dulu populer di negara kawasan timur tengah seperti Mesir dan negara lainnya, tetapi menggunakan teknik tutup celup malam. Mereka menggunakan sarang lebah sebagai media mencetak motif pada kain. Fakta tersebut sedikit membuktikan bahwasanya teknik membatik memang tidak secara eksklusif lahir di nusantara.

Selain di nusantara, teknik membatik juga dapat dijumpai di Turki, India, Cina, Jepang dan Afrika. Namun hanya Indonesia yang menggembangkan teknologi serta motif membatik sedemikian kompleks. Hasilnya, corak yang dihasilkan sangat kaya juga bernilai seni tinggi. Terutama untuk daerah Jawa.

Teori asal-muasal batik nusantara bagai misteri

Batik NusantaraSementara teori sebenarnya mengenai asal-muasal teknik batik nusantara masih bagaikan misteri. Banyak sekali perbincangan mengenai hal ini, namun masih belum menghasilkan jawaban pasti. G.P. Rouffaer, seorang ilmuwan Belanda menyebutkan bahwa teknik ini dibawa pertama kali dari daerah India Selatan. Berbeda dengan J.L.A Brandes, beliau mengatakan bahwa sebelum ada pengaruh India, Indonesia telah memiliki 10 unsur kebudayaan asli. Kesenian itu antara lain kesenian wayang, gamelan, puisi, pengecoran logam mata uang, pelayaran, ilmu falak, budidaya padi, irigasi, pemerintahan, dan tentunya membatik.

Salah satu sumber mengatakan bahwa kerajinan tekstil nusantara telah berkembang sejak abad ke-17. Faktanya, pada abad tersebut Indonesia mulai melakukan import kain tenun dari India. Bahkan pakaian Eropa pun mulai masuk ke nusantara pada awal tahun 1815. Namun teori-teori tersebut digulirkan begitu saja. Penyebabnya, ditemukan relief bermotif menyerupai batik yang ada pada candi Prambanan dan candi Burobudur. Artinya, pengaruh kerajinan textil ini sudah dimulai sejak bangunan candi berdiri yaitu abad ke-8. Coraknya pun mirip bahkan tetap dipakai hingga sekarang.

Ciri-ciri batik Nusantara

Secara umum, batik nusantara dapat dikategorikan menjadi dua. Yaitu corak tradisional dan modern. Keduanya memiliki ciri tersendiri. Berikut adalah ciri-ciri batik berdasarkan kategorinya :

Ciri Batik Nusantara Corak Tradisional :

  • Memiliki makna simbolik. Setiap pola tradisional selalu memiliki makna tersirat. Oleh karena itu, corak tradisional lebih sering digunakan untuk acara-acara adat.
  • Jenis hias utama berupa hewan, pagoda keratonan, serta bentuk-bentuk geometris. Hewan yang dimaksud disini bisa berupa ular, naga, burung, hingga hewan-hewan mitodologi semacam barong.
  • Warna condong gelap. Identik dengan metode pembuatan tradisional pula. Dimana pewarnaan kain masih dominan menggunakan pewarna alami seperti Soga. Sehingga warna-warna yang dihasilkan pun cenderung gelap sepert coklat, hitam, namun tak jarang pula putih.
  • Motifnya unik berdasarkan daerah asal. Karena motif unik inilah, sangat jarang menemukan corak tradisional apabila tidak di daerah asal pembuatannya.

Ciri Batik Nusantara Corak Modern :

  • Tidak memiliki makna spesifik. Pola yang dihasilkan motif modern lebih sering memiliki kesan abstrak. Sangat jarang ditemukan makna khusus dalam desain keseluruhannya.
  • Jenis hias utama didominasi tumbuhan atau rangkaian bunga. Munculnya gambar bunga ini merupakan salah satu pengaruh bangsa asing. Salah satunya ialah bangsa Belanda dengan bunga tulipnya.
  • Warna kain condong bebas. Tak ada aturan khusus mengenai warna seperti pada corak tradisional. Biasanya, warna-warna yang dipilih ialah merah tua, biru, ungu, dan lain sebagainya.
  • Motif tidak mencerminkna khas daerah asal. Hal ini dikarenakan corak modern merupakan perpaduan dari berbagai daerah. Sehingga, sulit mengidentifikasi bagaimana motif asli dari jenis modern.

Macam-macam batik nusantara tradisional

Batik Nusantara Batik SoloBatik Nusantara motif tradisional boleh dikatakan memiliki pola klasik. Namun bagi pecinta batik sejati, corak tradisional tentu adalah buruan utama. Diantaranya ialah:

  1. Ceplok. Ceplok identik dengan berbagai macam desain geometris. Seperti gambar mawar melingkar, kupu-kupu, kemudian dipercantik bentuk-bentuk kecil simetris merata pada keseluruhan kain.
  2. Batik Kawung. Kawung dipercaya sebagai corak tertua dalam sejarah batik. Dulu, batik hanya diperbolehkan digunakan oleh pejabat kerajaan. Kemudian menurut beberapa kalangan, pola salib simetris di irisan empat oval Kawung mengacu pada sumber energi universal.
  3. Nitik. Selain Kawung, Nitik juga dikatakan sebagai motif tertua. Pola batik nusantara dikatakan mirip dengan kain tenun patola yang dibawa oleh pedagang Gujarat India. Nitik biasa digunakan oleh para orang tua saat pernikahan.
  4. Batik Semen. Semen memiliki arti yaitu tumbuhan. Pola pada Semen merupakan penggambaran alam sekitar seperti dedaunan, gunung, juga hewan. Semen banyak digunakan oleh rakyat kalangan menengah kebawah, sehingga bisa dikatakan model paling umum.
  5. Kraton. Sesuai namanya, pembuat batik kraton merupakan putri-putri kraton atau pembatik ahli di lingkungan kraton. Maka dari itu kain ini hanya diperuntukkan keluarga kratonan. Bisa dikatakan pula, pola kraton merupakan cikal bakal pola tradisional.
  6. Batik Sido Mukti. Sido Mukti biasa dipakai sebagai kain dalam upacara adat perkawinan Jawa. Hal itu dikarenakan pola Sido Mukti memiliki filosofi harapan guna mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin.
  7. Batik Sekar Jagad. Pola sekar jagad memang kental akan kesan khas dan kontras. Namun indah dipandang mata. Di dalam bahasa Jawa, Sekar Jagad memiliki arti “kar jagad”. Kar berarti peta, sementara jagad berarti dunia. Apabila digabungkan, artinya ialah peta dunia. Sesuai makna yang ingin disampaikan tentang indahnya sebuah keberagaman.

Ragam motif batik nusantara modern

Meski kebanyakan batik nusantara motif modern merupakan hasil perpaduan dengan budaya asing, perkembangan batik modern tak kendor. Berikut adalah beberapa motif modern yang terkenal hingga saat ini :

  • Batik Aceh. Ciri khas Aceh terletak pada warna-warni cerah sebagai warna dasar kain. Pola gambar yang ditampilkan merupakan penggambaran unsur alam seperti gambar tumbuhan.
  • Bali. Bali memiliki ciri khas menyerupai ornamen-ornamen yang biasa ada pada puri atau candi. Seperti kita tahu, struktur bangunan di Bali sangat unik. Apabila dituangkan ke dalam kain, orang yang melihatnya akan langsung ‘ngeh’ bahwa itu adalah kain Bali.
  • batik Banyuwangi. Desain Banyuwangi erat kaitannya dengan nilai-nilai estetika mempesona. Pengrajin biasanya berusaha menyematkan pesan ektetik melalui penggambaran keadaan alam Banyuwangi di atas kain. Hal tersebut juga berlaku sebagai salah catu cerminan jati diri masyarakat Banyuwangi.
  • Bojonegoro. Lebih dikenal dengan jogoroan memliki 9 turunan. Di antaranya adalah jagung miji emas gastro rinonce, mliwis mukti, parang embul sekar rinandar dan lain lain.
  • batik Banyumas. Banyumas lebih cenderung menggunakan warna coklat gelap dan dipadukan dengan pola warna hitam. Gambarnya banyak mengambil dari perumpamaan hewan serta tumbuhan. Sangat kental akan makna nilai-nilai kebebasan.
  • Banten. Ciri khas paling menonjol ialah pola hias gerabah atau klasik dari keramik peninggalan kerajaan Banten. Warna pilihan kain pun lebih cenderung memilih warna-warna ceria pastel berkesan lembut. Sesuai makna tersiratnya yaitu tentang kelembutan hati.
  • Batik Cirebon. Cirebon terkenal dengan dua jenis motif utama yaitu pesisiran dan megamendung. Pesisiran lebih mengacu pada ornamen hiasan keraton. Sedangkan mega mendung identik gambar awan menggumpal hasil perpaduan budaya nusantara dan Cina.
TEST