Pengrajin Batik Jogja

Batik Jogja dan Nilai Historis di Dalamnya

Batik Jogja tak dipungkiri merupakan pentolan motif tradisional batik Nusantara. Keberadaan serta pesat perkembangannya tak lepas dari sejarah Kerajaan Mataram Islam. Dimana kerajaan ini mencapai masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo. Pada masa pemerintahan beliau, masyarakat Jogja hidup dalam keadaan tentram dan aman. Pada masa tersebut pula kesenian daerah sangat disorot dengan serius. Kesenian membatik adalah salah satu diantaranya.

Namun setelah beliau wafat dan digantikan oleh pewarisnya, situasi Jogja berubah menjadi kacau. Berbagai konflik terjadi dimana-mana. Hingga akhirnya kerajaan Mataram Islam terpecah belah menjadi dua. Perpecahan tersebut merupakan hasil dari Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Mei 1755. Dimana kerajaan Mataram pada saat itu menjadi 2.

Kerajaan Mataram Surakarta dan Yogyakarta (Jogja)

  • Kasunanan Surakarta Hadiningrat di bawah Sri Sunan Pakubuwono III, penerus Sri Sunan Pakubuwono II.
  • Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat di bawah Sri Sultan Hamengkubuwono I (Pangeran Mangkubumi).

Pada saat perpecahan tersebut, segala busana Mataraman termasuk batik-batiknya dibawa ke Jogja. Karena itulah Keratonan Surakarta membuat corak baru untuk dijadikan busana kerajaan. Maka dari itu, corak Jogja dikatakan sebagai embrio perbatikan tradisional di Jawa.

Kondisi batik jogja di abad 13

Kondisi Batik JogjaDi abad ke-13, membatik hanya dilakukan oleh para putri dan kerabat kerajaan Jogja saja. Di masa itu, membatik merupakan salah satu keterampilan wajib yang harus dimiliki oleh para putri dan keluarga kraton. Bagi keluarga kraton, membatik tak hanya sekedar seni melukis kain. Namun juga sarana melatih kesabaran, ketekunan, olah cipta, rasa, serta karsa. Hasil akhirnya pun mereka gunakan sendiri untuk pakaian adat dalam upacara keratonan.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan pakaian tersebut, proses membatik pun akhirnya melibatkan masyarakat luar benteng kraton. Tak jarang para abdi dalem membawa pulang pekerjaan mereka untuk dikerjakan dirumah. Hingga akhirnya kesenian batik jogja benar-benar menyebar luas hingga ke pelosok negeri.

Makna filosofis dalam batik jogja

Membahas tentang batik, tentu tak kan lepas dari makna filosofis pada setiap motifnya. Setiap daerah, pengrajin, warna, bahkan setiap lekukan garis punya pesan tersendiri. Tak terkecuali, batik Jogja. Diantaranya:Pengrajin Batik Jogja

  • Motif Cuwiri, secara bahasa memiliki arti kecil-kecil. Harapan motif ini ialah agar setiap pemakainya akan selalu pantas sekaligus dihormati.
  • Sidomukti, coraknya memang terkesan abstrak. Namun, makna batik ini ialah perlambangan dari kecukupan juga kebahagiaan.
  • Motif Kawung, merupakan batik yang identik dengan keluarga kerajaan. Alasannya, ialah karena kawung merupakan lambang dari keperkasaan dan keadilan.
  • Pamiluto, berasal dari kata pulut yang berarti perekat. Corak pada batik ini melambangkan ketertarikan. Oleh karena itu, banyak digunakan sebagai busana pertunangan.
  • Motif Parang Kusumo, memiliki arti bunga mekar. Diharapkan setiap pemakainya dapat selalu tampil indah nan menawan.
  • Ceplok Kasatrian, sarat akan kesan gagah meski dulu biasa dipakai oleh kaum menengah kebawah.
  • Motif Karawitan, batik ini banyak digunakan oleh para tetua karena memiliki makna tentang kebijaksanaan.
  • Truntum, biasa dipakai oleh para wali/mertua pengantin dalam adat Jawa. Kata Truntum berasal dari kata tuntun, sehingga diharapkan setiap pemakainya dapat menuntun sang calon pengantin.
  • Motif Ciptoning, memiliki makna pengharapan bahwa setiap pemakainya dapat menjadi orang bijak, mampu memberi petunjuk menuju jalan kebenaran.
  • Tambal, makna terkandung didalamnya ialah pengharapan kesembuhan atau pemberi semangat baru. Konon, apabila menjadikan kain jenis ini sebagai selimut ketika sakit, maka akan lekas sembuh.
  • Motif Slobok, berasal dari kata lobok atau longgar. Kain ini biasa digunakan ketika hendak pergi melayat. Harapannya, agar orang yang meninggal diberikan kelonggaran ketika mengahadap Sang Pencipta.
  • Parang Rusak Barong, dulu biasa digunakan para satria untuk berperang. Diharapkan, ketika mengenakan kain ini, kekuatan sang kesatria dapat berlipat ganda.
  • Motif Udan Liris, memiliki arti hujan gerimis. Dimana hujan merupakan lambang kesuburan.

Macam-macam batik jogja dan maknanya

Batik Jogja sangat banyak ragamnya. Jika ditelusuri satu persatu, mungkin sekitar ratusan atau bahkan ribuan dapat ditemukan. Berikut adalah lima jenis batik paling digandrungi oleh pecinta kain seni berikut makna lengkapnya:

Batik Jogja Kawung.

Pola pada Kawung merupakan penggambaran dari buah kolang-kaling. Sebagian juga menyebutkan bahwa pola ini terinspirasi dari kumbang Kuwangwung. Dimana keduanya sama-sama memiliki bentuk bulat lonjong. Bulatan-bulatan ini biasanya terdiri dari empat buah bulatan mengelilingi satu titik pada bagian tengah. Tersusun rapi secara geometris melambangkan keperkasaan dan keadilan pemakainya. Oleh karena itu, kain ini banyak dikenakan para pejabat kerajaan pada zaman dahulu.

Batik Parang Kusumo.

Parang Kusumo dalam falsafat Jawa mempunyai makna bahwa hidup harus dilandasi dengan sebuah perjuangan. Perjuangan guna mencari kebahagiaan lahir dan batin. Selain itu, bermakna bagaimana hidup memberi manfaat dalam masyarakat. Hal ini sesuai dengan perlambangan bunga mekar dalam pola kain. Perjuangan mulai dari kuncup hingga mekar, kemudian memberikan bau harum pada sekitarnya.

Batik Jogja Truntum.

Truntum merupakan perumpamaan sebuah simbol cinta tulus tanpa syarat antara sepasang pengantin baru. Dengan harapan semakin lama kebersamaan diantara kedua mempelai, semakin subur pula cinta diantara keduanya. Hingga kemudian rasa cinta tersebut kekal abadi. Karena maknanya yang mendalam, Truntum lebih sering digunakan oleh orang tua pengantin pada saat hari pernikahan berlangsung. Harapannya, agar mereka mampu menjadi penuntun bagi pasangan pengantin dalam menjalani sebuah hubungan.

Batik Pamiluto.

Bila Truntum digunakan oleh orang tua pengantin, maka Pamiluto adalah kain yang dikenakan calon pengantin pada saat pertunangan. Pamiluto berasal dari kata Pulut dimana memiliki arti sebagai perekat. Harapannya, menjaga hubungan antara kedua mempelai agar tidak mudah terlepas.

Batik Jogja Tambal.

Tambal pada dasarnya lebih banyak digunakan sebagai kain Panjang. Ada kepercayaan unik dibalik kain ini. Yaitu apabila kain ini digunakan sebagai selimut tidur oleh orang sakit, maka sakitnya akan cepat sembuh. Apalagi jika digunakan ketika malam hari. Konon, kain bermotif Tambal dapat memberikan kehangatan bagi pemakainya. Sesuai dengan makna dari kata Tambal sendiri. Yaitu sebagai penutup atau pemberi semangat baru.

Cara pembuatan batik jogja

Salah satu faktor banyaknya filosofi terkandung dalam batik Jogja ialah alur pembuatannya yang cukup rumit. Kurang lebih, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

  • Proses pertama ialah Molani. Molani merupakan proses penggambaran pola awal menggunakan pensil atau alat tulis halus lainnya.
  • Setelah Molani, barulah pengrajin mulai melukis kain menggunakan canting. Proses pelukisan dilakukan persis mengikuti pola Molani sebelumnya.
  • Selanjutnya, sisa kain yang masih berwarna putih akan ditutup dengan lilin malam. Hal ini berfungsi untuk mencegah bagian tersebut tidak menyerap warna ketika hendak dilakukan proses pewarnaan.
  • Tahap berikutnya ialah proses pencelupan kain ke dalam cairan pewarna.
  • Nah setelah pewarnaan, proses selanjutnya akan kembali ke pelukisan dengan canting. Kemudian ditutupi lilin malam lagi, dan juga pewarnaan lagi. Begitu seterusnya hingga pola yang diinginkan selesai digambar utuh.
  • Berulah setelah itu dilakukan proses nglorot, dengan cara merebus kain ke dalam air hangat. Fungsinya ialah untuk meluruhkan sisa sisa lilin malam pada kain.
  • Proses terakhir ialaha mencuci batik, kemudian dikeringkan.
Bagikan artikel ini http://blog.qlapa.com/vbbw

Artikel Lainnya